Kepada Guru, Kepada Para Pendahulu, dan Tentang Ketakadaban

img/drone.jpg

Kepada Guru, Kepada Para Pendahulu, dan Tentang Ketakadaban

“Aja ngerasani gurumu, senajan gurumu ana khilaf utowo kekurangan” (jangan pernah menggunjing gurumu, sekalipun ia punya kekeliruan atau kekurangan).

Ternyata Ibnu Malik juga pernah mengalami writer’s block; keadaan saat seorang penulis seperti notok jedok alias tiba-tiba merasa kehilangan kemampuannya untuk memproduksi karya.

Saya sering mengalaminya, atau mungkin juga Anda. Dan itu adalah waktu saat kita merasa bahwa ada unek-unek serta gagasan yang mesti kita sampaikan, tapi kok ya sulit sekali mengutarakannya, atau apalagi menuliskannya. Saya sering mendapat cerita dari beberapa kawan yang kesulitan menyelesaikan tugas akhir (skripsi, tesis, atau apapun) oleh sebab tak tahu apa yang hendak ia tulis. Semua seperti buntu.

Beberapa lama, tokoh bernama lengkap Al-‘Allamah  Abu ‘Abdillah Muhammad Jamaluddin ibn Malik at-Thai itu terjebak lingkaran setan bagi para penulis. Dan uniknya, kejadian tersebut justru dialaminya di awal-awal mengarang Alfiyah; kitab nazham bermuatan 1002 larik (bait) yang banyak dijadikan rujukan dalam fan ilmu nahwu. Tentang alfiyah-nya Ibnu Malik, Imam As-Suyuthi pernah menulis syair:

فائقة ألفية ابن مالك # لكونها واضحة المسالك

“Keunggulan alfiyah-nya Ibnu Malik (adalah) karena penggunaan metode yang terang benderang”

Kitab alfiyah amat poluler di dunia pesantren. Saking terkenalnya, karena itu para santri umumnya mengenal kitab tersebut dengan hanya sebutan alfiyah saja, meski sebetulnya yang dimaksud adalah Alfiyah ibn Malik (yang berarti kitab alfiyah yang dikarang oleh Ibnu Malik). Kenapa!? Sebab sebetulnya masih banyak alfiyah jenis lain, yang ditulis oleh para pakar yang berbeda.

Dan, kisah ihwal writer’s block-nya Ibnu Malik itu berkaitan dengan alfiyah-alfiyah lain yang telah lebih dahulu digubah.

***

Setelah menyenandungkan pepujian kepada Allah dan Rasul-Nya, Ibnu Malik dalam mukaddimah alfiyah-nya menulis:

وَأسْتَـعِيْنُ اللهَ فِيْ ألْفِــيَّهْ # مَقَاصِدُ الْنَّحْوِ بِهَا مَحْوِيَّهْ

(Dan aku memohon kepada Allah untuk kitab Alfiyah,  yang dengannya dapat mencakup seluruh materi Ilmu Nahwu)

تُقَرِّبُ الأَقْصَى بِلَفْظٍ مُوْجَزِ # وَتَبْسُـطُ الْبَذْلَ بِوَعْدٍ مُنْجَزِ

(Mendekatkan pengertian yang jauh dengan lafadz yang ringkas serta dapat memberi penjelasan rinci dengan waktu yang singkat)

وَتَقْتَضِي بِغَيْرِ سُخْطِ # فَـائِقَةً أَلْفِــــيَّةَ ابْنِ مُعْطِي
(Kitab ini menuntut kerelaan tanpa kemarahan, melampaui alfiyah-nya Ibn Mu’thi)

Sampai di bait ini, Ibnu Malik hendak menjelaskan kepada pembaca bahwa kitab yang akan dikarangnya tersebut lebih unggul daripada kitab alfiyah dalam fan ilmu yang sejenis. Tentu saja, yang dimaksud Ibnu Malik adalah alfiyah karya ulama sebelumnya, yakni Yahya ibn Abdil Mu’thi ibn Abdin Nur Az-Zawawi al-Maghribi atau biasa dikenal dengan Ibnu Mu’thi. Ibnu Malik pun meneruskan bait keenam:

……………. # فَائِقَةً لَهَا بِأَلْفِ بَيْتٍ 

(Mengunggulinya dengan seribu bait, …….)

Tepat pada saat usai menulis kalimat tersebut, Ibnu Malik merasa stack. Buntu laik terganjal batu. Padahal, seperti direncanakannya, kitab ini adalah sebangsa alfiyah (yang berarti seribuan; maksudnya seribu bait). Tapi masih di-bait kelima, atau hampir saja menuntaskan bait keenam, Ibnu Malik sudah merasa seperti tak kuasa meneruskannya.

Kondisi tersebut berlangsung berhari-hari, sampai suatu ketika, Ibnu Malik mimpi bertemu seseorang yang tiba-tiba saja bertanya:

“Aku dengar, kau sedang menggubah kitab alfiyah dalam ilmu nahwu!?”

“Betul,” jawab Ibnu Malik.

“Sudah dapat berapa!? Sudah sampai mana!?” Tanya orang itu lagi.

“Baru sampai di bagian faiqatan laha bi alfi bait.”

“Kenapa tidak kau selesaikan?”

“Entahlah. Tiba-tiba saja aku merasa lesu, tak mampu menuntaskannya.”

“Kau ingin menyempurnakan bait itu?”

“Ya. Tapi tak mampu.”

Seperti membantu Ibnu Malik menuntaskan baitnya, orang di dalam mimpi itu pun merapal sepenggal bait. Atau, ia seperti sedang menyeru Ibnu Malik agar, tuntaskanlah baitmu tersebut dengan ini:

 واْلحَيُّ قَدْ يَغْلِبُ أَلْفَ مَيِّتٍ # ………..….. 

(….., Satu orang yang hidup memang terkadang bisa menaklukkan seribu orang mati)

Waktu itu Ibnu Mu’thi memang sudah wafat. Jadi, bait yang dibacakan oleh orang dalam mimpi Ibnu Malik itu sebetulnya menyindir Ibnu Malik sendiri. Ya, mana mungkin orang yang sudah mati dapat membalas kritik, hujatan, atau kesombongan orang yang masih hidup?

“Apakah betul engkau Ibnu Mu’thi?” Ibnu Malik memberanikan diri bertanya pada orang di dalam mimpinya.

“Ya. Aku Ibnu Mu’thi.”

Masya Allah, tak terkira malunya Ibnu Malik pada saat itu. Pagi hari setelah mimpi yang tak mengenakkan tersebut, Ibnu Malik pun menghapus nazham yang direncanakannya berbunyi faiqatan laha bi alfi bait. Dan sampai hari ini, bait keeenam dan ketujuh dalam alfiyah Ibnu Malik akan terbaca:

وَهْوَ بِسَبْقٍ حَائِزٌ تَفْضِيْلاً # مُسْـتَوْجِبٌ ثَنَائِيَ الْجَمِيْلاَ

(Beliau [Ibnu Mu’thi] lebih istimewa karena lebih awal. Beliau berhak atas sanjunganku yang indah)


وَاللَّهُ يَقْضِي وَافِرَهْ # لِي وَلَهُ فِي دَرَجَاتِ الآخِرَهْ

(Semoga Allah melimpahkan karunianya yang luas untukku dan untuk beliau pada derajat-derajat tinggi di akhirat)

***

Demikianlah kisah Writer’s Block-nya Ibnu Malik seperti diceritakan oleh penulis Hasyiyah ibn Hamdun. Beberapa yang dapat kita petik adalah bahwa sebagian dari kesulitan-kesulitan yang kita hadapi ternyata bisa saja berkaitan dengan hal-hal yang kita anggap sepele, meski sikap su’ul adabkepada guru dan atau para pendahulu sebetulnya bukan perkara yang sederhana.

Anda boleh percaya, tetapi juga boleh tidak. Dalam kitab jawahirul ma’ani, misalnya, disebutkan bahwa konon dulu orang-orang yang menyebut nama Sheikh Abdul Qadir Al-Jailani tanpa wudhu seketika mati dengan kepala terpotong. Atau, kita juga telah banyak mendengar tentang ulama-ulama yang mendadak hilang hafalan atau ilmunya akibat merendahkan Sidi Sheikh Ahmad Al-Badawi.

Hari-hari ini, orang seperti gampang saja melemparkan racauan kepada para pendahulu. Imam madzhab direndahkan, dan para auliya dengan mudah dituduh pendusta. Lebih celaka, dengan buruknya adab macam itu, kita masih saja bangga dan merasa diri sudah menjadi orang hebat. Rasanya, ungkapan Ibnu Mu’thi amat tepat:

“Satu orang yang hidup memang terkadang bisa menaklukkan seribu orang mati.”

Kegemaran merendahkan ini akan tetapi bukan cuma kita tujukan kepada para ulama terdahulu. Dus, orang-orang tua dan atau guru-guru kita pun kita cerca, hanya sebab kita tak sepakat dengan pendapatnya. Lalu bertebaranlah tuduhan suu’ (buruk). Kiai anu ulama suu’, Gus ini ulama suu’, Ustadz itu ulama suu’, atau Habib fulan ulama suu’, tanpa kita menyadari bahwa kita sendiri sudah terjangkit suu’ul adab kepada orang yang lebih tua, atau pada yang mungkin lebih berilmu.

Dulu, ada seorang Kiai sepuh berpesan, “aja ngerasani gurumu, senajan gurumu ana khilaf utowo kekurangan” (jangan pernah menggunjing gurumu, sekalipun ia punya kekeliruan atau kekurangan). Sewaktu ngaji dulu, saya juga mendengar seorang Gus mengatakan, yang sampai hari ini dawuh tersebut masih terekam jelas, bahwa:

“Barakah ilmu itu bukan tergantung pada kehebatan seorang ulama atau seorang guru. Bahwa ulama A itu mbarakahi, ulama B itu punya keistimewaan, atau ulama C itu doanya maqbul. Bukan!!! Keberkahan ilmu diukur dari sejauh mana pengabdianmu atau rasa ta’zhim-mu kepadanya.”

Semua uraian dari para guru tentang adab itu terasa benar saat mendengar atau membaca kisah-kisah laik yang dialami Imam Ibnu Malik. Sesungguhnya, tanpa atau dengan mengatakan bahwa karyanya lebih unggul daripada karya Ibnu Mu’thi, orang bakal mengakui keunggulan alfiyah Ibnu Malik.

Karenanya, Anda boleh hebat. Tapi kehebatan itu bakal menjadi hal yang berbeda saat kemudian Anda merasa hebat, dan selanjutnya malah merasa lebih unggul daripada para guru dan pendahulu Anda. Anda boleh seorang Kiai sundul langit, tapi jangan sekali-kali mengerdilkan guru Anda yang hanya ustadz TPQ. Anda boleh seorang profesor doktor doktorandus, tapi jangan sekali-kali menyepelekan guru Anda yang hanya kiai kampung. Anda bisa saja tak sependapat dengan guru atau pendahulu Anda, tapi jangan sekali-kali hilang adab.

Dalam hasyiyah atas syarah alfiyah ibn malik, Ibnu Hamdun menyitir sebuah hadits:

أباؤكم خير من أبناءكم الى يوم القيامة

(para pendahulu [pelopor] lebih baik dari generasi penerus hingga hari kiamat)

Kita ini siapa!? Atau saya ini siapa!?

Cuma segerombolan kecebong yang hanya sanggup merendahkan orang lain di balik tabir akun media sosial kan!? Yang kapasitas ilmu kita cuman berdasar pada copy paste dari artikel-artikel viral tapi nyata omong kosong dan hoax, bukan!?

Wallahu a’lam bis shawab.

* Kalau tulisan ini (dan tulisan-tulisan saya yang lain) memberi manfaat, dan selanjutnya diridhai oleh Tuhan, saya bermaksud menghadiahkan pahalanya kepada orang-orang tua, guru-guru, dan para pendahulu saya; orang-orang yang kerap saya bikin sakit hati, dan karenanya saya semestinya perlu memelas kerelaan.

Tentang Penulis

img/logos/stiq-logo-shortcut.png

Kepala Bagian Penelitian dan Pengembangan (LITBANG) STIQ Al-Lathifiyyah Palembang. Pemimpin Redaksi Bagian Penerbit Yayasan Masjid Agung Palembang. Redaktur Masjid Agung Palembang Televisi (MAPTV).


Artikel Terbaru

img/drone.jpg

Identitas Peci Hitam

17 May 2019

Pengumuman Terbaru

img/drone.jpg

Penerbit Lathifiyyah

10 Aug 2018
img/drone.jpg

STIQ Al-Lathifiyyah

09 Aug 2018

Profil

img/drone.jpg

STIQ Al-Lathifiyyah

09 Aug 2018
img/drone.jpg

Penerbit Lathifiyyah

10 Aug 2018