Profil

STIQ Al-Lathifiyyah

STIQ Al-Lathifiyyah, yang proses perizinannya diajukan pada sekira medio 2014, dan satu setengah tahun berikutnya (awal tahun 2016) dikabulkan, mulanya memiliki tiga program studi; (1) Imu Al-Qur’an dan Tafsir, (2) Ilmu Hadits, (3) Perbankan Syariah. Dua dari tiga program studi yang didaftarkan tersebut, yakni program studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir dan Ilmu Hadits, diterima oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Agama Islam Kementerian Agama Republik Indonesia seperti tertuang dalam Surat Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Agama Islam Nomor 783 Tahun 2016.



Awalnya, direncanakanlah pendirian sekolah tingkat menengah (Madrasah Tsanawiyah dan atau Madrasah Aliyah). Akan tetapi, barangkali karena gagasan memang betul-betul memiliki sayap, juga berkat saran dari pelbagai pihak, pengurus Yayasan al-Lathifiyah menyepakati pendirian sekolah tinggi yang berorientasi pada al-Qur’an. Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an al-Lathifiyyah, atau lantas diakronimkan dengan STIQ al-Lathifiyyah, inilah yang kemudian diharapkan menjadi lembaga pendidikan tinggi pertama yang secara khusus memfokuskan diri pada pengembangan ilmu-ilmu al-Qur’an (dan mencetak sarjana-sarjana al-Qur’an) di kawasan Sumatera Selatan.

Didukung penuh oleh masyarakat Palembang, pendirian STIQ al-Lathifiyyah juga didasarkan pada beberapa pertimbangan urgen. Pertama, itikad Yayasan al-Lathifiyyah untuk terlibat lebih jauh dalam proses mencerdaskan kehidupan bangsa. Secara spesifik, hal ini direalisasikan dalam upaya menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan profesional yang dapat menerapkan serta mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan etika. Di samping itu, usaha pengembangan, penyebarluasan, serta pengaplikasian pengetahuan ini juga dimaksudkan untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat dan memperkaya kebudayaan bangsa yang bermartabat. Pada taraf ini, Yayasan al-Lathifiyyah bertekad untuk merealisasikan misi melahirkan generasi intelektual yang mandiri melalui penyelenggaraan pendidikan tinggi yang mengedepankan nilai kebangsaan, kesejahteraan, dan solidaritas sosial dengan mendasarkan diri pada nilai-nilai etis al-Qur’an dan akhlaqul karimah.

Kedua, dukungan yang besar dari masyarakat pada umumnya dan kalangan internal pesantren pada khususnya, yang mendorong lahirnya satu perguruan tinggi berkualitas yang lahir dari “rahim” pondok pesantren sendiri. Hal ini sangat terkait dengan perkembangan diaspora masyarakat pesantren, terutama Pesantren Tahfizhul Qur’an Putri al-Lathifiyyah, yang telah menyebar masuk ke berbagai aspek kehidupan bangsa, baik ke wilayah akademik, ekonomi, politik, birokrasi pemerintah maupun kebudayaan. Secara praktis, dukungan dan dorongan ini terwujud misalnya dalam kesanggupan para akademisi berkualitas dari berbagai perguruan tinggi terkemuka di Palembang untuk terlibat aktif dalam rencana pengembangan STIQ al-Lathifiyyah.

Ketiga, fasilitas fisik maupun non-fisik yang telah tersedia di lingkungan Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’an Putri al-Lathifiyyah. Bahwa, pendirian STIQ al-Lathifiyyah merupakan salah satu progress yang mutlak pentingnya untuk mewujudkan lembaga pendidikan terpadu di lingkungan Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’an Putri al-Lathifiyyah. Letak strategis di pusat metropolis Kota Palembang, serta ketersediaan fasilitas fisik berupa lahan yang cukup luas, memberikan kemungkinan pengembangan kampus terpadu tanpa harus memisahkan diri dengan kedekatan di lingkungan masyarakat. Sementara itu kondisi calon mahasiswa, baik dari alumni Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’an Putri al-Lathifiyyah sendiri, maupun para lulusan dari pelbagai jaringan pesantren di tingkat Sumatera Selatan –pun di tingkat Nasional– memberikan harapan bahwa STIQ al-Lathifiyyah menjadi kebutuhan yang semakin signifikan. Apalagi belakangan ini, orang tua cenderung semakin tertarik untuk mempercayakan pendidikan anak pada lembaga-lembaga yang kredibel menjaga “moralitas” peserta didik –seperti di lingkungan pesantren– memberi harapan bahwa STIQ al-Lathifiyyah tidak saja akan menjangkau lulusan Madrasah Aliyah pesantren, tetapi juga sekaligus lulusan-lulusan sekolah umum dari seluruh penjuru daerah –wa bil khusus di kawasan Sumatera Selatan.

STIQ Al-Lathifiyyah, yang proses perizinannya diajukan pada sekira medio 2014, dan satu setengah tahun berikutnya (awal tahun 2016) dikabulkan, mulanya memiliki tiga program studi; (1) Imu Al-Qur’an dan Tafsir, (2) Ilmu Hadits, (3) Perbankan Syariah. Dua dari tiga program studi yang didaftarkan tersebut, yakni program studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir dan Ilmu Hadits, diterima oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Agama Islam Kementerian Agama Republik Indonesia seperti tertuang dalam Surat Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Agama Islam Nomor 783 Tahun 2016.

Pengurus STIQ Al-Lathifiyyah

img/logos/stiq-logo-shortcut.png

Hj. Lailatul Mujizat, M.Ud

Ketua
img/logos/stiq-logo-shortcut.png

Siti Alfiatun Hasanah, M.Pd.I

Wakil Ketua I
img/logos/stiq-logo-shortcut.png

H. Abdullah Saggaf, SE, Ak

Wakil Ketua II

STIQ Al-Lathifiyyah

STIQ Al-Lathifiyyah, yang proses perizinannya diajukan pada sekira medio 2014, dan satu setengah tahun berikutnya (awal tahun 2016) dikabulkan, mulanya memiliki tiga program studi; (1) Imu Al-Qur’an dan Tafsir, (2) Ilmu Hadits, (3) Perbankan Syariah. Dua dari tiga program studi yang didaftarkan tersebut, yakni program studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir dan Ilmu Hadits, diterima oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Agama Islam Kementerian Agama Republik Indonesia seperti tertuang dalam Surat Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Agama Islam Nomor 783 Tahun 2016.