Logika Bencana atawa Benarkah Musibah adalah Akibat dari Dosa-Dosa Kita

img/drone.jpg

Logika Bencana atawa Benarkah Musibah adalah Akibat dari Dosa-Dosa Kita

Alhasil, pelbagai bencana memang berhubungan dengan tingkah polah manusia. Kalau tidak, kenapa kemudian disyariatkan untuk shalat gerhana, misalnya, atau shalat istisqa.

Musibah terjadi di beberapa daerah. Lantas, bukannya menawarkan bantuan, atau setidaknya menyuguhkan sedikit empati, kita malah sibuk mencari dalih. Tasikmalaya gempa, dan lalu kita bilang, “Wajar sekali, wong di sana sarang maksiat.” Aceh digempur tsunami, dan kemudian dengan enteng kita berseloroh, “Biasa saja, tempat itu memang pusat peredaran ganja dan barang terlarang.” Jakarta banjir, dan kita menyergah, “Kenapa tak sekalian ditenggelamkan saja, ohTuhan, bukankah Engkau tahu bahwa di sana bercokol Alexis!?”

Begitulah kita, orang-orang yang seperti tampak terus-terusan jumawa sebab tidak atau belum tertimpa bencana yang serupa (na’udzu billahi min dzalik).

Begitukah kita? Sebab pernahkah kita sedikit saja berpikir sebelum memutuskan untuk mengocehkan seloroh-seloroh macam itu? Pernahkah kita membayangkan berada di posisi ahlul mushibah, sementara di sudut sana, orang-orang yang adalah saudara kita sendiri malah ribut menggunjing; menuduh kita sebagai tukang maksiat? Masya Allah, sudah jatuh, tertimpa tangga, ditambah beton bangunan pula. Sakitnya jelas bukan cuma ‘di sini’, tetapi di mana-mana.

Penalaran simplistis macam ini, yang mengait-ngaitkan antara fenomena alam dengan lelaku lancung manusia ini, bukan sama sekali tidak mendapat tantangan. Salah satu gugatan berasal dari argumentasi akal sehat.

Begini…

Kalau ada sesuatu, sebut saja A, muncul berurutan dengan sesuatu yang lain, anggap saja B, itu bukan selalu berarti bahwa A adalah penyebab dari B. Dalam logika kausalitas, sebab tak selalu ditentukan berdasarkan tertib peristiwa. Bahkan, jika kita terbiasa menggunakan pola penalaran seperti ini (menunjuk peristiwa tertentu sebagai sebab bagi peristiwa lainnya hanya karena kedekatan waktu), kita bakal terjebak pada apa yang dinamakan sebagai kesesatan berpikir (logical fallacy). Tepatnya sesat pikir jenis non causa pro causa (post hoc ergo propter hoc), alias kesalahan menetapkan sebab berdasarkan dua peristiwa yang berurutan.

Sore itu, ada orang gila bernyanyi-nyanyi di depan rumah Anda. Tidak biasa, memang, dan semakin terasa tak biasa, saat malamnya tiba-tiba Anda mendapat kabar bahwa anak perempuan Anda hamil. Jika Anda berpikir bahwa penyebab kehamilan putri Anda itu adalah nyanyian orang gila tadi, maka Anda sudah terjebak sesat pikir.

Kupu-kupu masuk ke balai rumah Anda. Lalu  Anda menduga bakal kedatangan tamu. Semalaman ditunggu, tak ada tamu juga. Besoknya, Anda memelototi pintu, masih tak ada tamu. Besoknya lagi, dan besoknya besok, bahkan sampai daun pintu rumah Anda dilalap rayap, ternyata masih tak ada tamu. Yang salah jelas bukan kupu-kupu, atau tamu Anda yang tak kunjung datang. Yang keliru adalah cara Anda berpikir. Dalam bahasa agama, pola bernalar seperti ini kerap diistilahkan dengan sebutan tathayyur.

Dari sudut ini diketahui bahwa fenomena musibah yang beriringan dengan melonjaknya tingkat kemaksiatan adalah fakta. Tetapi pernyataan bahwa “kemaksiatan merupakan sebab dari adanya musibah” adalah kesimpulan yang terburu-buru, dan cenderung cacat karena terindikasi fallacy. Karena kemaksiatan bisa terjadi di mana saja, dan ternyata tidak pernah terjadi apa-apa di sana. Sebaliknya, musibah juga bisa melanda siapa saja, meskipun ia sama sekali suci dari maksiat. Anda yang pernah sedikit saja membaca Hukum Kausalitas Ilmiah pasti mengerti bahwa:

“Jika X ditemukan pada pada saat Y tidak terjadi, atau tidak ditemukan pada saat Y terjadi, maka X bukan sebab dari Y.”

Itulah mengapa kemudian para pendukung argumen akal sehat ini menantang kita:

“Kalau memang gempa Tasikmalaya itu akibat dari kebijakan Mahkamah Konstitusi melegalkan LGBT, misalnya, mohon ditunjukkan lagi kesalahan-kesalahan apalagi yang telah kita bikin! Sebab gempa pada hari dan jam yang sama juga terjadi di banyak tempat, bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di luar negeri. Daftar kesalahan ini penting dibuat, sebab dengan itu kelak kita bisa mengantisipasi agar jangan sampai kebijakan Bupati Semarang, umpamanya, menjadi sebab dari topan badai yang terjadi di Zimbabwe.”

Lagipula, kalau yang disebut itu bukan maksiat-maksiat individual, tetapi dosa-dosa sosial, pernyataan bahwa “maksiat adalah sebab bagi bencana” masih akan kelihatan logis. Misal, bahwa dosa penggundulan hutan yang dilakukan oleh para developer perumahan itu berakibat pada banjir bandang. Dosa konsumsi massif dan atau komersialisasi air botolan (air dalam kemasan?) berdampak pada krisis air bersih, dan lain-lain, dan sebagainya.

Nyatanya tidak. “Dosa-dosa” macam ini hampir sama sekali tak terdengar disebut. Lha wong saatmelihat pabrik semen menjarah perbukitan Kendeng di Jawa Tengah, yang jelas-jelas merusak ekosistem, itu saja tak ada yang  teriak. “Mungkin yang demikian ini bukan dianggap dosa, sebab yang disebut dosa hanya berarti zinah, selingkuh, mabuk-mabukan, prostitusi, dan yang semacamnya,” beberapa orang menambahkan.

Demikianlah argumentasi akal sehat. Tetapi tentu saja, argumentasi macam itu akan dengan mudah dapat kita bantah. Contohnya dengan mementahkannya melalui pernyataan, “hidup kan tak selalu hanya berpegang pada akal sehat?” Atau, “Agama jelas bukan didasarkan pada akal sehat, tetapi wahyu,” dan lain-lain. Bukankah itu sebabnya kita membaca Al-Qur’an; menghayati Hadits; menghikmati pandangan para ulama!?

Baiklah…

Dalam Al-Qur’an Surat As-Syuro ayat 30:

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

“Dan apa musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).”

Lalu Al-Qur’an Surat Al-Ankabut ayat 40:

فَكُلًّا أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ فَمِنْهُمْ مَنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُمْ مَنْ خَسَفْنَا بِهِ الْأَرْضَ وَمِنْهُمْ مَنْ أَغْرَقْنَا وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

“Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.”

Dari sini tampak jelas betapa musibah, terutama yang berupa bencana (alam), berkait lekat dengan perilaku manusia. Sekurang-kurangnya, seperti kata Al-Maraghi, ayat-ayat di atas mengingatkan kita semua bahwa apa yang terjadi pada umat sebelum Nabi Muhammad juga bisa berlaku pada kita; umatnya Nabi Muhammad.

Lho, tapi bukannya umat Muhammad itu punya beberapa keistimewaan, yang di antaranya adalah bahwa adzab ditangguhkan sampai hari kiamat!? Bahwa siksa atas dosa-dosa mereka tidak disegerakan di dunia, demi kesempatan bertaubat!?

Betul…

Seperti kata Al-Sya’rawi, dulu, para pendusta agama seketika di-adzab oleh Allah. Umat Muhammad!? Tidak. Seperti katanya:

ﺇﻻ ﺃﻣﺔ ﻣﺤﻤﺪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻘﺪ ﻗﺎﻝ اﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ: {ﻭﻣﺎ ﻛﺎﻥ اﻟﻠﻪ ﻟﻴﻌﺬﺑﻬﻢ ﻭﺃﻧﺖ ﻓﻴﻬﻢ ﻭﻣﺎ ﻛﺎﻥ اﻟﻠﻪ ﻣﻌﺬﺑﻬﻢ ﻭﻫﻢ ﻳﺴﺘﻐﻔﺮﻭﻥ} [ اﻷﻧﻔﺎﻝ: 33] ﺃﻱ: ﺃﻧﻪ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻗﺪ ﺃﺟﻞ اﻟﺠﺰاء ﻭاﻟﻌﻘﻮﺑﺔ ﻋﻦ ﺃﻣﺔ ﻣﺤﻤﺪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺇﻟﻰ اﻵﺧﺮﺓ.

“Kecuali umat Muhammad Saw, karena Allah telah berfirman, ‘Allah tidak menyiksa mereka, sedangkan engkau berada di tengah mereka, Allah bukanlah pengadzab mereka, sementara mereka memohon ampun’ (Al-Anfal: 33). Artinya, Allah Swt telah menangguhkan balasan dan siksa bagi umat Muhammad sampai hari kiamat.”

Hanya saja, lanjut Al-Sya’rawi, putusan Allah tersebut berlaku umum pada saat Nabi Muhammad masih hidup, dan sepeninggal beliau putusan tersebut hanya berlaku bagi umat yang menerima Nabi Muhammad saja.

ﻭﻳﻘﻀﻲ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻓﻲ ﺫﻟﻚ اﻟﻴﻮﻡ ﺑﻴﻦ ﻣﻦ اﺗﺒﻌﻮا اﻟﺮﺳﻮﻝ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﻣﻦ ﻋﺎﻧﺪﻭﻩ، ﻭﺑﻄﺒﻴﻌﺔ اﻟﺤﺎﻝ ﻳﻜﻮﻥ اﻟﺤﻖ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻓﻲ ﺟﺎﻧﺐ ﻣﻦ ﺃﺭﺳﻠﻪ، ﻻ ﻣﻦ ﻋﺎﻧﺪ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ .

“Dan ketentuan Allah Swt dalam hal itu, pada hari itu (di mana Nabi masih hidup), berlaku bagi orang yang mengikuti maupun yang menentang Nabi Saw. Dan dari sudut masa kini, allah berada di sisi orang yang menerima Nabi, bukan yang menentangnya.”

Alhasil, pelbagai bencana memang berhubungan dengan tingkah polah manusia. Kalau tidak, kenapa kemudian disyariatkan untuk shalat gerhana, misalnya, atau shalat istisqa. Sesuatu yang sebetulnya amat musykil, alias tampak tak ada hubungannya sama sekali menurut akal sehat. “Minta hujan kok dengan shalat, kenapa gak bikin uap air saja!? Misalnya jemur ember berisi air garam!? Hehehe” demikian kurang lebih pandangan akal.

Masalahnya, kita tak pernah betul-betul tahu kapan Allah akan menurunkan adzab-Nya, serta di mana itu bakal terjadi!? Sama tak tahunya, apakah penurunan Adzab Allah tersebut bersifat lokal saja, ataukah nasional, atau malah internasional!?

Misalnya, apakah gempa di Iran itu ada hubungannya dengan segala maksiat di Las Vegas!? Apakah tsunami di Yogya hanya karena salah orang Yogya, sehingga kemudian orang-orang di tempat lain berhak untuk merasa “lebih suci”!? Dus, mohon maaf, apakah Allah berwatak lokal dan ikut berpolitik!?

Kalau kita menjawab tidak, maka kenapa kita masih memendam gagasan-gagasan macam itu!? Jangan-jangan gunung meletus di Papua itu sebab perilaku laknat manusia di Palembang, meski yang sesungguhnya diingatkan malah tak menyadarinya!?

Kita tak pernah tahu…

Tapi dulu, tersebutlah seorang ahli ibadah. Tiap kali ia melihat orang berbuat dosa, ia menangis, dan segera memohon ampun kepada Tuhan.  Saat ditanya, kenapa yang berbuat dosa orang lain kok malah dirinya yang ber-istighfar!? Ia menjawab, “Sebab itu semua salahku, bukan mereka. Karena aku tak mampu mengajak mereka ke jalan kebaikan.”

Nah, sekarang, kenapa saat terjadi bencana, yang menurut logika agama jelas-jelas berkaitan dengan tindak-tanduk kita, tak ada seorang pun yang menyadari bahwa “Itu semua salah saya! Sayalah pendosa yang menyebabkan Allah murka itu! Sayalah pendosa yang bahkan seringkali tak menyadari kalau sedang berbuat dosa!” Adakah yang mampu menjamin bahwa segala bencana itu bukan sebab dosa-dosa kita? Dosa-dosa Anda? Dosa-dosa saya?

Ah, ternyata kita lebih suka memilih untuk mengelirukan orang lain, sebab kita merasa tak pernah berbuat maksiat sama sekali. “Yang maksiat itu di sana, bukan di sini, itulah mengapa di sini aman-aman saja, dan bencana justru terjadi di sana,” kita pun berteriak. 

Kalau sudah begini, apakah kita tinggal menunggu saja adzab serupa Fir’aun!? Siksa duniawi bagi mereka yang besar kepala!? Na’udzu billah.

Wallahu a’lam bis shawab.

Tentang Penulis

img/logos/stiq-logo-shortcut.png

Kepala Bagian Penelitian dan Pengembangan (LITBANG) STIQ Al-Lathifiyyah Palembang. Pemimpin Redaksi Bagian Penerbit Yayasan Masjid Agung Palembang. Redaktur Masjid Agung Palembang Televisi (MAPTV).


Artikel Terbaru

img/drone.jpg

Identitas Peci Hitam

04 Mar 2019

Pengumuman Terbaru

img/drone.jpg

Penerbit Lathifiyyah

10 Aug 2018
img/drone.jpg

STIQ Al-Lathifiyyah

09 Aug 2018

Profil

img/drone.jpg

STIQ Al-Lathifiyyah

09 Aug 2018
img/drone.jpg

Penerbit Lathifiyyah

10 Aug 2018