Egoisme Pengendara

img/drone.jpg

Egoisme Pengendara

Karakter seseorang akan terlihat jelas pada saat ia mengendara. Apakah ia seorang penyabar, pemarah, toleran, solider atau egois.

Egoisme (ananiyah) paling kentara tercermin dari seorang pengendara. Paling tidak, pada saat mengendara, seseorang akan lebih dominan egoismenya. Mengapa demikian? Karena jalanan punya karakter hukum tersendiri. Di setiap lampu merah atau pada titik-titik kemacetan, biasanya pengendara berpikir bagaimana ia dapat melajukan kendaraannya dengan lancar dan segera sampai pada tujuannya. Karenanya,s erobot kanan serobot kiri adalah pemandangan yang biasa di jalanan, khususnya di kota-kota yang tinggi tingkat kemacetannya. Siapa pandai menggunakan trik, meskipun terkadang harus curang, maka dia yang akan melaju terlebih dahulu.

Di jalan raya tidak berlaku hukum kesopanan sebagaimana yang terjadi di tempat-tempat lain. Misalnya, yang muda mendahulukan yang lebih tua atau seorang murid lebih mendahulukan gurunya. Dengan kaca dan atau helm yang tertutup, jalan raya tidak mengenal atasan bawahan, senior junior, dan lain sebagainya. Hukum jalan raya tidak mempedulikan siapa pengendara dan siapa penumpang. Di sini tidak dibutuhkan identitas dan status apapun tentang siapa anda, kecuali satu predikat saja, pengendara.

Karakter seseorang akan terlihat jelas pada saat ia mengendara. Apakah ia seorang penyabar, pemarah, toleran, solider atau egois. Namun biasanya, karakter-karakter negatif akan muncul lebih dominan, disadari atau tidak. Coba perhatikan, misalnya ketika ada motor yang berhenti di depan kita dan menghalangi kendaraan, padahal bukan tempat dan saatnya berhenti. Apa yang terjadi di benak kita? Kita akan marah, kesal bahkan menggerutu, lalu menampakkan kekesalan itu dengan menekan klakson panjang sekerasnya lalu menerobos kanan atau kiri. Sekarang, mari kita balik posisinya. Andai pengendara motor itu adalah kita. Apa yang terjadi? Kita pun juga akan marah, kesal dan menggerutu dalam hati, “kenapa juga harus membunyikan klakson sekeras itu, kalau mau jalan, ya jalan saja, apa tidak lihat motor saya sedang mogok”. Dua posisi berbeda tetap dengan respon yang sama. Itulah egoisme pengendara. Mengukur kebenaran hanya dengan kacamata sendiri, tidak mempertimbangkan perspektif orang lain. Bahkan, terkadang belok kanan, tapi sein menyala kiri. Sudah jelas salah, tetap saja membela diri dan masihsempat menyalahkan orang lain.

Ada beberapa prinsip dasar agama yang bijak dipedomani ketika mengendara. Tujuannya, agar kita terbebas dari sifat buruk “keakuan” tersebut. Pertama, Al Qur’an mengingatkan bahwa menyakiti orang lain adalah dosa besar (Qs. al-Ahzab: 58). Karena itu, berpikirlah berulang kali sebelum malakukannya. Setiap perlakuan akan membawa konsekuensi hukum di hadapan Tuhan. Menyakiti orang lain -sekecil apapun- berarti menabung kezhaliman untuk diri sendiri. Kata Nabi Saw. “az-zhulm zhulumat yaum al-qiyamah”, kezhaliman (di dunia) adalah (penyebab) kegelapan dan kesusahan di akhirat. Kedua, agama mengajarkan sikap “at-tafassuh”, yakni bergeser posisi demi memberikan rasa nyamanuntuk orang lain (al-Mujadilah : 11). Artinya, lapangkanlah tempat orang lain agar ia merasa senang, tenang dan nyaman. Bukan justru didesak dan disempitkan tempatnya hingga ia tersakiti. Ketiga, misi utama Islam dan penganutnya adalah menjadi sumber cinta kasih bagi seluruh penghuni alam (Qs. al-Anbiya’ : 107). Menurut Ath-Thabari, sasaran kasih sayang seorang muslim itu lintas agama dan lintas tuhan. Artinya, tidak ada batasan dalam mencintai dan menyayangi. Jangankan sesama manusia, terhadap hewan dan tetumbuhan pun seorang muslim harus bersikap kasih sayang. Saking besarnya kasih sayang Nabi Saw., setiap hewan peliharaan dan benda-benda yang beliau miliki masing-masing diberi nama-nama yang indah. Demikian diungkapkan dalam banyak hadits. Jika begitu halnya, maka setiap sisi kehidupan muslim harus mengedepankan rasa cinta kasih kepada sesama, tak terkecuali pada saat mengendara di jalan raya.

Selanjutnya, keempat, Nabi Saw. pernah bersabda bahwa “barangsiapa yang memuluskan urusan saudaranya, Allah Swt. akan memuluskan semua urusannya”. Tak ada kebaikan yang sia-sia di sisi Tuhan, sekecil apapun. Jika bukan dia yang membalas kebaikan, maka Tuhan akan mengutus orang lain untuk mendatangkan kebaikan dan kebahagiaan, walau mungkin dalam wujud yang berbeda. Tidak ada ruginya membiarkan orang lain melajukan kendaraannya dengan lancar dan aman. Suatu saat orang lainpun akan memperlakukan kita dengan cara yang sama atau bahkanmungkin lebih baik. Persilahkan kendaraan lain mendahului,  berikan jalan yang lebar dan lupakan sesaat “keakuan” kita, siapa tahu ia sedang didesak suatu masalah, sehingga harus segera sampai pada tujuannya.

Terakhir, prinsip dasar kehidupan sosial Islam adalah taqdim al-ghair atau dalam literatur agama lebih populer disebut “al-itsar”, yakni mendahulukan kepentingan orang lain di atas kepentingan diri sendiri. Al-itsar adalah akhlak mulia yang telah dicontohkan oleh Nabi Saw. dan para shahabat.

Pernah suatu ketika seorang badui miskin datang kepada Nabi Saw. untuk meminta sedekah. Namun beliau tidak memiliki apapun yang dapat diberikan. Lalu ada seorang shahabat menawarkan diri untuk menjamu budui tersebut. Ketika sampai di rumahnya, ia minta kepada istrinya untuk menghidangkan makanan yang ternyata hanya cukup untuk jatah makan malam anaknya. Resikonya, seisi rumah akan kelaparan pada malam itu. Apa yang mereka lakukan?. Setelah makanan terhidang, anaknya ditidurkan dan lampu dipadamkan. Dalam kegelapan suami istri ini menggerak-gerakkan mulutnya di depan si badui, agar dikira ikut sama-sama menikmati hidangan yang sebenarnya hanya cukup untuk satu orang. Subhanallah. Keesokan harinya, sepasang shahabat yang mulia ini menemui Nabi Saw. dan menceritakan perihal “tipu daya” yang telah mereka lakukan. Beliau tersenyum bangga, lalu berujar : “Allah Swt. terkagum-kagum atas apa yang kalian berdua lakukan”. Menurut versi al-Bukhari, peristiwa ini menjadi sebab turun Qs. al-Hasyr : 9 “mereka lebih mengutamakan kepentingan orang lain di atas kepentingan mereka sendiri, meskipun dalam keadaan kesusahan”.

Hal apa yang mendorong mereka begitu kuat untuk lebih mengutamakan kepentingan orang lain daripada kepentingan pribadi. Inilah kekuatan iman yang bila telah mencapai puncaknya akan terefleksi dalam wujud cinta kasih kepada sesama. Ia akan merasakan kepentingan orang lain seakan-akan kepentingan dirinya sendiri. Kondisi ini pula yang pernah disinyalir Nabi Saw. “tidak beriman seorang di antara kamu, hingga [mampu] mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya”. Artinya, dalam kehidupan sosial seorang muslim, nilai-nilai iman dipertaruhkan. Kecintaan kepada sesama menjadi acuan standar kesempurnaan iman. Lalu mengapa masih banyak di antara kita yang tetap mempertahankan egoismenyaserta begitu sulit memberikan kebahagiaan dan kesenangan kepada orang lain?. Mungkin inilah saatnya keimanan masing-masing kita harus dire-evaluasi. Jangan-jangan kita termasuk apa yang dimaksudN abi Saw., bahwa iman kita belum sempurna. Ketika di  jalanan, potret diri kita tergambar. Maka berhati-hatilah dan janganegois. Wallahua’lam!

Tentang Penulis

img/logos/stiq-logo-shortcut.png

Wakil Ketua I Yayasan Al-Lathifiyyah Palembang. Dosen STIQ Al-Lathifiyyah Palembang. Dosen UIN Raden Fatah Palembang.


Artikel Terbaru

img/drone.jpg

Identitas Peci Hitam

17 May 2019

Pengumuman Terbaru

img/drone.jpg

Penerbit Lathifiyyah

10 Aug 2018
img/drone.jpg

STIQ Al-Lathifiyyah

09 Aug 2018

Profil

img/drone.jpg

STIQ Al-Lathifiyyah

09 Aug 2018
img/drone.jpg

Penerbit Lathifiyyah

10 Aug 2018