Pitis: Mata Uang Kesultanan Palembang Darussalam

img/drone.jpg

Pitis: Mata Uang Kesultanan Palembang Darussalam

Nilai nominal 16 keping duit pitis Palembang setara dengan 1 dolar.

Sebagai Kerajaan Islam yg berdaulat, Kesultanan Palembang Darussalam mendapatkan pengakuan dari kerajaan-kerajaan yang lain. Legitimasi Kesultanan Palembang diakui oleh Kesultanan Turki Usmani (Ottoman), sebagai pusat Khilafah Islamiah pada waktu itu. Islam menjadi agama resmi kerajaan, termasuk perangkat penting Kesultanan Palembang. Lambang dan semboyan, cap atau stempel, meriam, uang koin dan lainnya memiliki simbol islami, menggunakan aksara Arab-Melayu.

Kesultanan Palembang pada masanya dikenal sebagai negeri yg aman, makmur dan sejahtera (darussalam). Dalam bidang ekonomi, Kesultanan Palembang telah menjalin jaringan perdagangan bahkan sampai ke manca negara. Kesultanan Palembang Darussalam sendiri memiliki dan mengeluarkan sendiri koin mata uang sebagai alat pembayaran yang sah, selain dolar Spanyol yang menjadi mata uang resmi yang berlaku saat itu.

Mata uang Kesultanan Palembang, biasa disebut “pitis“, diproduksi setidaknya sejak abad ke 16 M, dalam berbagai ukuran dan corak. Duit ini berupa logam atau koin potongan pelat yg terbuat dari coran campuran timah hitam dan timah putih. Di tengah koin terdapat lobang berbentuk kotak atau bulat, lalu dirangkai dalam ikatan paket-paket yang masing-masing kebetan-nya terdiri dari lima keping. Tidak disebutkan nilai tukarnya masing-masing.

Meskipun demikian, sebagaimana menurut kesaksian orientalis Inggris, W. Marsden, dalam bukunya The History of Sumatra yang ditulis pada tahun 1783, nilai nominal 16 keping duit pitis ini sama dengan 1 dolar. Dalam mengukur nilai emas, 1 tail dianggap sebagai sepersepuluh kati (satu sepertiga pon) atau setara dengan dua seperempat dolar Spanyol.

Mata uang Kesultanan Palembang Darussalam bertuliskan aksara dan bahasa Arab, yang dicetak hanya pada satu sisi bagian atas. Sedangkan bagian belakang dibiarkan polos. Pada salah satu contoh duit ini tertulis:

Al-Sultan fi balad Palembang sanah 1163″
(Sultan di negeri Palembang tahun 1163 H/1749 M)

Tentang Penulis

img/logos/stiq-logo-shortcut.png

Kepala Bagian Penelitian dan Pengembangan (LITBANG) STIQ Al-Lathifiyyah Palembang. Pemimpin Redaksi Bagian Penerbit Yayasan Masjid Agung Palembang. Redaktur Masjid Agung Palembang Televisi (MAPTV).


Artikel Terbaru

img/drone.jpg

Identitas Peci Hitam

17 May 2019

Pengumuman Terbaru

img/drone.jpg

Penerbit Lathifiyyah

10 Aug 2018
img/drone.jpg

STIQ Al-Lathifiyyah

09 Aug 2018

Profil

img/drone.jpg

STIQ Al-Lathifiyyah

09 Aug 2018
img/drone.jpg

Penerbit Lathifiyyah

10 Aug 2018