Tentang Beragama yang Tidak Mungkin Tidak Copy Paste

img/drone.jpg

Tentang Beragama yang Tidak Mungkin Tidak Copy Paste

Bahkan ulama sekaliber Imam Nawawi, atau Imam Suyuthi, atau Imam Ghazali, memilih untuk bermadzhab; memutuskan untuk menjadi pengikut saja; sesuatu yang katanya mirip keledai.

Salam takzim kepada gurunda Ustadz H. John Supriyanto, MA

Kenapa jangan taklid? Sebab, kata sebagian orang, itu menyerupai perilaku keledai, yang mengikuti begitu saja dan apa saja yang digumamkan kepadanya. Tanpa peduli pada isi dari pesan yang ia ikuti, para keledai pun lebih pantas memperoleh julukan al-ghabiy al-ahmaq alias goblok, atau blo’on, bin tolol, dan atau dungu.

Mengapa jangan copy paste dalam beragama? Sebab, kata sebagian yang lain, tidak ada perintah untuk mengamini apa saja yang berasal dari para ulama. Itu juga berarti sama sekali tidak terdapat anjuran untuk membabi buta mengikuti pemahaman tertentu. Maka, kalau tidak mungkin menduduki level mujtahid, setidak-tidaknya jadilah muttabi’, yang beragama dengan tidak asal nurut dan manut. Beragamalah bukan seperti para muqallid, sekolompok “Pak Turut” yang tingkat kualitas keberagamaannya rendah itu.

Ajakan seperti di atas, dan atau seruan-seruan yang semacamnya, tampak keren di permukaan, tetapi bukan tidak memendam bara yang membahayakan. Anjuran laiknya di atas, sebagaimana materi dari ajakan itu sendiri, mesti tidak boleh diterima mentah-mentah. Katanya jangan jadi muqallid saja? Bukankah jangan menjadi seperti keledai? Itu juga berlaku pada seruan-seruan untuk “tidak menjadi muqallid” dan “jangan seperti keledai”juga, kan? Maka, mengikuti logika para penganjur “jangan taklid saja”-lah, catatan ini dibuat, yakni mengikuti anjuran-anjuran agar tidak menjadi muqallid bahkan pada seruan untuk “jangan sekedar taklid belaka”, dan yang sejenisnya.

Begini…

Beragama tidak mungkin tidak copy paste. Menurut saya, justru di sinilah letak perbedaan antara kaum beragama dan para atheis, atau antara kaum muslimin dan kaum musyrikin. Ingatlah, kalau pada saat itu tidak ada muqallid-muqallid sejati, alias orang-orang yang hanya sanggup berkata “iya”, dan bukan berseru “tidak”, maka tidak mungkin kita mengenal tokoh-tokoh semacam sahabat Abu Bakar.

Bayangkan, tiba-tiba seorang bernama Muhammad mengaku melakukan perjalanan dari Masjidil Haram sampai Masjidil Aqsha, dan lantas dari sana “terbang” menuju Sidrat al-Muntaha. Lebih celaka, ia mengaku melakukannya hanya dalam semalam.

Orang yang hanya mengandalkan akal sehat akan kesulitan mempercayai informasi musykil macam itu. Lha wong, Dimas Kanjeng yang mengaku mampu menggandakan duit dalam sekejap itu saja kita anggap “gila”. Apalagi ini; traveling berjuta-juta kilometer hanya dalam semalam. Tak ayal lagi, kaum Quraisy pun menertawakan Muhammad. Hanya beberapa orang saja yang percaya; yang kelak kita kenal sebagai para mukmin sejati generasi awal.

Anda boleh berkata, “Itu kan soal keimanan dan berlaku pada Nabi yang terpercaya, yang memang mesti kita terima tanpa bantahan, bukan soal fiqh yang terdiri dari berbagai pendapat para imam, yang salah satunya atau bahkan semuanya bisa saja keliru?” Atau, “Jangan membandingkan kemutlakan Al-Quran dan Al-Hadits dengan pendapat-pendapat manusia, termasuk Imam-Imam Madzhab dong!”

Oke, berarti kita melompat jauh pada soal madzhab-madzhab-an. Akan tetapi, itu juga berarti kita sepakat bahwa copy paste itu mutlak dalam hal keberagamaan. Cuma saja Anda sebetulnya ingin berkata bahwa copy paste hanya mungkin berlaku pada Al-Qur’an dan Al-Hadits, bukan pada pendapat para ulama. Anda sebenarnya ingin berkata Say No to Ulama, meski dengan malu-malu berdalih, “Periksa dulu pendapatnya, kalau tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan Al-Hadits, maka tolaklah!” Bukan begitu!?

Sekarang begini, pernahkah kita bertanya pada diri kita sendiri, bagaimana para ulama itu merumuskan pendapat-pendapat mereka? Jangan pernah membayangkan bahwa para ulama, apalagi Imam Madzhab, itu adalah kita yang kerap berpendapat asal bunyi (asbun). Sebab pada umumnya, ketika disebutkan kata “pendapat, atau opini, atawa pemikiran”, kita lalu membayangkan seorang anggota DPR atau Lawyer yang mengoceh seenak udelnya tanpa dasar; atau berlandaskan dalil tetapi kemudian dibelok-belokkan sekenanya.

Apa yang dimaksud dengan “pendapat” para ulama jelas jauh dari kesan semacam itu. Jangan pernah membayangkan bahwa inchi per inchi dari pendapat para ulama itu mereka lahirkan tanpa melalui proses ilmiah yang berliku-liku. Kalau tidak demikian, mana mungkin banyak orang sampai mau menggelari mereka sebagai imam, dan atau apalagi mujtahid. Pendek kata, pendapat-pendapat para ulama itu juga memiliki pijakan Al-Qur’an dan Al-Hadits, bahkan diperoleh dari hasil “berdarah-darah” dalam menggali dan mendalaminya (ijtihad).

Lalu, apa maksud dari maqalah atau peryataan para imam itu sendiri, misalnya Imam Malik yang berkata, “Aku cuma manusia, terkadang salah, terkadang benar. Oleh karena itu, telitilah pendapatku, jika sesuai dengan Al Qur’an dan sunnah, maka ambillah; bila tidak maka tinggalkanlah”? Atau maqalah Imam Abu Hanifah, “Kalau aku mengemukakan suatu pendapat yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah Rasul Saw, maka tinggalkanlah.” Atau perkataan Imam Al-Syafi’i, “Apapun pendapat yang kukatakan dan atau kulakukan, bila ternyata bertentangan dengan yang disabdakan oleh Rasul Saw., maka yang disabdakan itulah yang menjadi pendapatku”? Atau pernyataan Imam Ahmad, “Janganlah engkau bertaqlid kepadaku atau kepada Malik, Syafi’i, Auza’i, dan Tsauri, tetapi ambillah dari sumber mereka mengambilnya, jangan bertaqlid kepada siapapun dari mereka dalam urusan agamamu”?

Terang benderang sekali, ucapan-ucapan tersebut ditujukan kepada orang-orang yang selevel mereka alias sesama mujtahid. Perhatikan kembali ucapan Imam Malik, yang berkata, “Telitilah”.  Atau Imam Abu Hanifah dan Imam Syafii yang menyarankan agar membaca kembali Al-Qur’an dan Al-Sunnah. Dan Imam Ahmad ibn Hanbal yang mengajak untuk mengambil hukum langsung dari sumbernya. Yang seperti ini hanya mungkin terjadi pada pribadi mujtahid, yang memang memiliki kapabilitas keilmuan untuk langsung menggali hukum pada sumber aslinya; bukan manusia-manusia sok mujtahid macam kita, yang bahkan tidak pernah kenal disiplin ilmu badi’, sebagai misal, apalagi mengusainya. Belum lagi ilmu tafsir, asbabun nuzul, ta’arudh adillah, nasikh mansukh, dan lain sebagainya, yang memang menjadi pegangan dasar bagi seorang yang berposisi sebagai mujtahid.

Salah seorang pembesar madzhab Syafi’i, Imam Nawawi, mengomentari perkataan Imam Madzhab (wa bil khusus pernyataan Imam Syafi’i) dalam Syarah Muhaddzab, “Tidak mungkin setiap orang yang mengklaim menemukan hadits sahih dapat mempertentangkannya dengan pendapat Syafi’i, sebab paling tidak ia mesti memiliki kapabilitas betijtihad, setidaknya Mujtahid Madzhab (tentang Mujtahid madzhab dan derajat para Mujtahid buka lagi buku-buku Ushul Fiqh, red).” Beliau melanjutkan:

ﻭﻫﺬاﺇﻧﻤﺎﻳﻜﻮﻥﺑﻌﺪﻣﻄﺎﻟﻌﺔﻛﺘﺐاﻟﺸﺎﻓﻌﻲﻛﻠﻬﺎﻭﻧﺤﻮﻫﺎﻣﻦﻛﺘﺐﺃﺻﺤﺎﺑﻪاﻵﺧﺬﻳﻦﻋﻨﻪﻭﻣﺎﺃﺷﺒﻬﻬﺎﻭﻫﺬاﺷﺮﻁﺻﻌﺐﻗﻞﻣﻦﻳﻨﺼﻒﺑﻪ

“Ini hanya mungkin dilakukan setelah mengkaji keseluruhan karya Imam Syafi’i, dan kitab-kitab sejenis dari para ulama madzhab yang pernah menukil darinya, atau kitab-kitab lain yang serupa. Dan ini jelas merupakan syarat yang berat, yang hanya sedikit orang mampu melakukannya.”

Apabila kita percaya bahwa dalam hal merumuskan hukum, strata kaum muslimin secara garis besar dibagi menjadi tiga kelompok (mujtahidmuttabi’, dan muqallid), maka percayalah, muttabi’atau apalagi muqallid itu tak berhak atas kapasitas merevisi gagasan mujtahid. Meskipun mungkin muttabi’ dinilai lebih tinggi daripada muqallid, oleh sebab mereka mengetahui dalil-dalil yang dipakai oleh mujtahid, mereka tetap pengikut juga. Catat, mereka hanya tahu, dan bukan mengubah pendapat para imam. Merevisi dan atau men-takhrij pendapat mujtahid adalah tugas mujtahid juga, yang berarti mesti memiliki kapabilitas keilmuan mumpuni.

Itulah mengapa bahkan ulama sekaliber Imam Nawawi, atau Imam Suyuthi, atau Imam Ghazali, memilih untuk bermadzhab (dalam hal ini madzhab Syafii). Meskipun mungkin orang-orang ini sesungguhnya memiliki kapabilitas ilmiah selevel mujtahid, mereka tetap rendah hati, malah memutuskan untuk menjadi pengikut saja; sesuatu yang katanya mirip keledai.

Nah, kalau kemudian, umpamanya, pendapat-pendapat para Imam itu tampak bertentangan dengan hadits shahih, lantas bagaimana!? Bukankah Imam Hanafi atau Imam Syafii pernah berkata, kurang lebih, “Kalau ada hadits yang shahih, maka itulah madzhabku”?

Perlu kita tahu bahwa tidak setiap apa yang kita anggap shahih lantas seketika itu juga dapat diterapkan sebagai sumber fatwa. Perlu diteliti dulu dari banyak sisi; seperti apakah hadits tersebut tidak bertentangan dengan hadits yang lain (ta’arudh), apakah hadits itu bukan mansukh, siapakah orang yang menge-klaim ke-shahih-annya, dan seterusnya. Misalnya, sebelum berhukum dengan hadits tersebut, kita mesti bertanya, siapa yang menganggapnya shahih!? Bagaimana dengan ulama hadits yang lain!? Dan lain-lain.

Ini juga, seperti telah disebutkan oleh Imam Nawawi sebelumnya, merupakan tugas pelik, yang mestinya dilakukan oleh orang dengan kapasitas keilmuan selevel mujtahid. Jangan mentang-mentang sudah memegang Al-Quran dan kitab shahihain (Bukhari-Muslim) lalu dengan lantang menggampangkan tuduhan keliru pada para ulama; kepada para imam madzhab. Lantas, tanpa tata krama sama sekali, memanggil Imam Syafii dengan Syafii saja, atau kadang malah memelesetkannya dengan niat bermain-main menjadi Sapii, atau Sapei. Na’udzu billah, kita ini siapa!? Ulama-ulama jaman dulu, setidak setuju apapun terhadap pandangan alim yang lain, tak pernah mencontohkan lelaku seperti ini.

Karenanya, kita mesti tahu bahwa menurut pendapat yang masyhur, Imam Bukhari pun bahkan ber-madzhab Syafii. Imam Tajuddin As Subki memasukkan Al Bukhari dalam Thabaqat As Syafi’iyah di mana beliau disebut sebagai murid Imam Al Humaidi, ulama besar Syafi’iyah. Dr. Nahrawi Abdussalam dalam Al-Imam Asy-Syafi’i bainal mazhabaihil Qadim wal Jadid, mengatakan, “pengikut mazhab Syafi’i, diantaranya adalah Al-Imam Al-Bukhari, Imam Muslim, Imam Nasa’i, Imam Baihaqi dan lainnya”.

Lagi-lagi, beragama memang mesti copy paste. Ayat Al-Quran yang menyebutkan bahwa laa tattabi’ maa laisa laka bihii ‘ilm (janganlah mengikuti apa-apa yang kamu tak memiliki ilmu atasnya), semestinya tidak diartikan dengan “janganlah mengikuti ucapan orang lain yang tak kau ketahui dasarnya.” Kenapa? Sebab Al-Quran juga menyatakan, fasaluu ahlad dzikri in kuntum laa ta’lamuun(bertanyalah kepada ahli ilmu apabila engkau tak tahu).

Mengapa kita ogah mengikuti pendapat para ulama!? Jangan-jangan, tanpa atau dengan dialasi dalil (atau dalih?), kita hanya hendak mengikuti pikiran kosong kita sendiri belaka; mengikuti pendapat pribadi saja saat membaca dan atau menafsiri Al-Quran dan Al-Hadits. Lalu, seperti dikhawatirkan ulama-ulama terdahulu, kita pun dengan mudah berfatwa tanpa ilmu; hanya kutip ayat sana-sini dan petik hadits ini-itu (cuma berdasar terjemahan pula), dan kita pun dapat gelar ustadz (ulama).

Mengikuti pendapat para ulama adalah apa yang kemudian dikenal dengan pola beragama yang ber-sanad (sambung sampai Rasulullah). Kalaupun kita sendiri juga tahu bahwa tidak seorang pun yang tak punya salah, termasuk juga para ulama, itu bukan berarti kita tak perlu berikhtiar, dan lalu menyerahkan diri pada pendapat sendiri saja (yattabi’ul hawa?). Apa gunanya belajar, kuliah, menuntut ilmu sampai ke tempat-tempat yang jauh, kalau bahkan preman pun —akibat nilai para ulama telah kita jatuhkan sendiri— kini dapat mencomot “dalil” untuk membenarkan tindak-tanduknya.

Ibnu Mubarak, seperti pernah dikutip Profesor Said Agil Husin Al-Munawwar, pernah berkata, “al-isnad min al-diin, laula al-isnad la qaala man syaa’a maa syaa’a” (sanad itu bagian dari agama, kalau tak ada sanad, setiap orang dapat berkata sekehendak hatinya).

Beragama adalah proses keber-sanad-an; sebuah copy paste. Merujuk langsung pendapat satu atau beberapa ulama adalah boleh saja, meski mungkin memang tidak ada dalil yang mewajibkannya (bahkan juga tida ada dalil yang mewajibkan untuk menjadi muttabi’ atau apalagi menjadi mujtahid). Justru yang mengkhawatirkan adalah mengutip langsung Al-Quran dan Al-Hadits, dan berhukum dengannya, tanpa disertai pengetahuan mendalam atasnya. Mengutip Al-Quran dan Al-Hadits hanya berdasarkan pemahaman pendek yang ada di kepala belaka.

Al-Syaikh Sulaiman al-Kurdi (wafat: 1332 H.) dalam Tanwir al-Qulub halaman 75 menulis:

ومنلميقلدواحدامنهموقالأناأعملبالكتابوالسنةمدعيافهمالأحكامفلايسلملهبلهومخطىءضالمضلسيمافيهذاالزمانالذيعمفيهالفسقوكثرتفيهالدعوىالباطلةلأنهاستظهرعلىأءمةالدينوهودونهمفيالعلموالعدالةوالإطلاع

“Barangsiapa yang tidak mau bertaklid (mengikuti) kepada salah satu dari mereka (para imam madzhab) dan ia berkata, “Saya mengamalkan al-Kitab (al-Qur’an) dan al-Sunnah”, sambil mengklaim dapat memahami hukum-hukum (secara langsung) dari keduanya, maka pengakuannya itu tidak bisa diterima. Sebaliknya, ia adalah orang yang bersalah, sesat lagi menyesatkan. Lebih-lebih lagi pada zaman sekarang ini yang di dalamnya banyak pengakuan yang batil, dan karena ia merasa lebih hebat dari para imam ahli agama, sedangkan ia berada jauh di bawah mereka dalam ilmu agama, keadilan, dan penelaahan.”

Seorang pakar hadits asal India, al-Syaikh Waliyullah al-Dahlawi dalam ‘Iqd al-Jid fi Ahkam al-Ijtihad wa al-Taqlid, halaman 31 menyatakan,

اعلمأنفيالأخذبهذهالمذاهبالأربعةمصلحةعظيمةوفيالإعراضعنهاكلهامفسدةكبيرة

“Ketahuilah! Bahwa menganut (salah satu dari) madzhab yang empat adalah maslahat yang agung, sedangkan berpaling darinya, semuanya adalah mafsadah (kerusakan) yang besar.”

Dari sini kemudian kita tahu bahwa copy paste hanya pada Al-Quran dan Al-Hadits itu amat riskan; rawan tergelincir pada kekeliruan. Jargon “kembali pada al-Quran dan al-Hadits” atau yang seringkali dinyatakan dalam bentuk kata tanya, “Mana ayat Quran-nya? Mana hadits-nya?”, sebetulnya merupakan sesuatu yang menjerumuskan. Sebab, dengan begitu, kita dijauhkan dari para ulama, dan lalu beragama dengan tanpa sanad alias beragama dengan cara “sekehendak pemikiran dan penafsiran saya sendiri belaka.”

Lagipula, menurut seluruh ulama, sumber hukum bukan cuma Al-Quran dan Al-Hadits, tetapi juga Ijma’ dan Qiyas. Di luar itu juga masih ada sumber-sumber hukum yang mukhtalaf, yang hanya berlaku pada kalangan terbatas, seperti istihsan bagi Madzhab Hanafi atau mashlahah mursalah buat Madzhab Maliki. Pola seperti ini memungkinkan para pengikut madzhab memberi hukum haram pada tuak, misalnya, oleh sebab alasan memabukkan. Alasan tersebut dikenal sebagai ‘illatdan pola berhukum yang demikian disebut dengan qiyas. Dalam kerangka bermadzhab, dan atau madzhab empat, segala persoalan yang tak ditemukan presedennya di jaman Nabi pun tidak serta merta hanya dihukumi dengan hadits kullu bid’atin dholalah (setiap yang baru adalah sesat).

Berpegang pada pendapat para imam memang bisa jadi masuk pada kategori fanatisme. Sejauh fanatisme diartikan sebagai kekakuan dan kekolotan memegangi gagasan, maka pengikut jargon “kembali pada Quran dan Hadits” pun bisa sama fanatiknya. Tetapi apakah fanatisme ini berarti juga ketidakmampuan menghargai pendapat yang lain? Belum tentu. Sebab sejauh ini justru para ulama pemegang teguh madzhab-lah yang memberi contoh sikap beradab dan tenggang rasa. Lha wong kita diajarkan untuk fanatik kok; seperti dalam ayat lakum dinukum wa liya diin.

Kalau kemudian beberapa orang pengikut madzhab tampak bermusuhan dengan pendapat yang berseberangan, itu sebetulnya bukan karena fanatisme, tetapi lebih karena ia kurang wawasan (atau sebab mereka awam). Kita tahu, semakin tinggi ilmu seseorang, ia pasti bakal mampu menerima yang lain. Menerima di sini jelas bulan sekaligus mengambilnya sebagai pedoman, tapi sekedar berdamai dengannya.

Ini berarti kita mesti cerdas dan berbudaya, dan bukan harus tidak fanatik. Keluasan cara pandang ini justru didapat bukan dengan melepaskan fanatisme, yang karena itu jadi serba permisif (serba boleh). Keterbukaan berpikir adalah efek belaka dari kebesaran jiwa dalam menerima konsep lakum dinukum wa liya din (juga lakum manhajukum wa liya manhaj).

Sekali lagi, beragama memang mesti copy paste, entah itu menjadi sekedar muqallid atau muttabi’. Tentu ini berbeda dengan dunia akademis, ketika di sini plagiasi merupakan sesuatu yang tabu. Tetapi, meski demikian, dunia akademis tidak pernah mengharamkan pengutipan (yang dipagari dengan penyebutan referensi dalam, misalnya, catatan kaki). Bahkan, tanpa kutipan-kutipan dan atau landasan teoritis dari peneliti-peneliti sebelumnya, dan hanya mengetengahkan gagasan-gagasan kosong penulisnya belaka, sebuah skripsi hanya akan jadi cerpen.

Al-‘ulama waratsatul anbiya’.

Laulal ‘ulama lakaanan naasu mitslal bahaaim.

Wallahu a’lam bis shawab.

 

Tentang Penulis

img/logos/stiq-logo-shortcut.png

Kepala Bagian Penelitian dan Pengembangan (LITBANG) STIQ Al-Lathifiyyah Palembang. Pemimpin Redaksi Bagian Penerbit Yayasan Masjid Agung Palembang. Redaktur Masjid Agung Palembang Televisi (MAPTV).


Artikel Terbaru

img/drone.jpg

Identitas Peci Hitam

17 May 2019

Pengumuman Terbaru

img/drone.jpg

Penerbit Lathifiyyah

10 Aug 2018
img/drone.jpg

STIQ Al-Lathifiyyah

09 Aug 2018

Profil

img/drone.jpg

STIQ Al-Lathifiyyah

09 Aug 2018
img/drone.jpg

Penerbit Lathifiyyah

10 Aug 2018