Copy Paste Beragama

img/drone.jpg

Copy Paste Beragama

Tidak ada satu dalil pun yang mewajibkan bersikukuh menganuti suatu paham, apalagi mensetarakannya dengan kemutlakan Al Qur’an dan hadits Nabi Saw.

“Jangan jadi pak turut”. Demikian kesan yang dapat diambil dari beberapa petunjuk Al Qur’an. Paling tidak, Al Qur’an memakai dua istilah dalam hal ini, yakni “wa lâ taqul mâ laisa laka bihî ‘ilm”(Jangan mengatakan sesuatu jika anda tidak mengetahuinya) dan “wa lâ tattabi’ mâ laisa laka bihî ‘ilm” (Jangan mengikuti sesuatu jika anda tidak mengetahuinya). Ini artinya Islam ingin semua penganutnya cerdas dalam beragama —bahkan dalam semua aspek kehidupan, tidak sekedar jadi “pak turut” alias copy paste. Karenanya, sedari awal para pengiman Islam diperintah untuk membaca (iqra’).

Dalam literatur agama, sifat copas diilustrasikan seperti keledai (himar); hewan tunggangan yang diidentikkan dengan sifat bodoh. Karena itulah orang Arab sangat marah kalau dipanggil “himar”.

Konon, dalam sebuah perjalanan kafilah yang melintasi sungai, keledai pertama bermuatan garam menyeberangi sungai terlebih dahulu. Ketika sampai di seberang, ia merasakan beban di tubuhnya menjadi lebih ringan. Lalu ia berujar kepada keledai yang lain , “Kini bebanku lebih ringan setelah aku menyeberangi sungai”. Serta merta keledai-keledai yang lain menyeburkan tubuhnya ke dalam sungai tanpa mempertimbangkan muatan yang dibawanya. Apa yang terjadi? Keledai-keledai itu merasakan bebannya bertambah berat hingga sempoyongan. Ternyata masalahnya ada pada muatannya. Keledai pertama bermuatan garam, sedangkan keledai yang lain bermuatan kapas, kendi dan kain. Sifat copas tanpa syarat ini melahirkan sebutan miring untuk keledai, al-ghabiy al-ahmaq yang berarti goblok, blo’on, tolol dan dungu.

Perspektif hukum Islam membagi kualitas keagamaan seseorang dalam tiga tingkatan, yakni mujtahid, muttabi’ dan muqallid. Mujtahid adalah orang yang memiliki kualitas keilmuan sangat matang, dengan pemahaman keagamaan komprehensif, sehingga ia mampu memproduk hukum (istinbath). Adapun mutttabi’ merupakan orang yang memiliki pemahaman keagamaan yang baik, namun tidak mampu mengistimbath hukum sendiri, sehingga harus mengikuti istinbath orang lain. Sedangkan muqallid adalah orang yang hanya “nurut” dan “manut” tanpa mengetahui asal-usul kebenarannya dan inilah tingkat kualitas beragama yang paling rendah, copas. Parahnya, sikap paling menonjol dari cara beragama copy paste biasanya lebih mudah menyalahkan, sulit menerima perbedaan dan gampang terprovokasi.

Orang yang pemahaman keagamaannya baik (standar muqallid) akan tampak lebih cool, dewasa dan toleran. Terlebih lagi, mereka yang telah mencapai predikat mujtahid, secara dominan akan lebih arif, santun, rendah hati dan terbuka. Gambaran kearifan itu misalnya dicontohkan oleh para imam mazhab yang tidak pernah “mewajibkan” pengikutnya untuk secara permanen menganut teguh pendapat mereka. Sebut saja misalnya Abu Hanifah yang mengatakan, “Kami hanyalah  manusia, hari ini  berpendapat begitu, tapi bisa jadi besok kami mencabutnya”dan “Kalau saya mengemukakan suatu pendapat yang bertentangan dengan Al Qur’an dan Sunnah Rasul Saw, maka tinggalkanlah”.

Pernyataan menyejukkan senada juga dilontarkan oleh para imam lainnya. Misalnya Imam Malik menyatakan, “Saya cuma manusia, terkadang salah, terkadang benar. Oleh karena itu, telitilah pendapatku, jika sesuai dengan Al Qur’an dan sunnah, maka ambillah; bila tidak maka tinggalkanlah”. Begitu pula Imam Syafi’i  mengatakan, “Setiap orang harus bermazhab kepada Rasul Saw. dan mengikutinya. Apapun pendapat yang kukatakan dan atau kulakukan, bila ternyata bertentangan dengan yang disabdakan oleh Rasul Saw., maka yang disabdakan itulah yang menjadi pendapatku”. Di lain tempat beliau mengatakan : “Bila kalian menemukan dalam kitab-ku sesuatu yang berlainan dengan hadits Rasul Saw., maka peganglah hadits itu dan tinggalkanlah pendapatku.” Imam Hanbali juga pernah berujar : “Janganlah engkau bertaqlid kepadaku atau kepada Malik, Syafi’i, Auza’i, dan Tsauri, tetapi ambillah dari sumber mereka mengambilnya, jangan bertaqlid kepada siapapun dari mereka dalam urusan agamamu”.

Tiga hal dapat disimpulkan dari pernyataan para mujtahid di atas. Pertama, meraka open minded,arif, toleran dan sangat menghargai perbedaan. Kedua, mereka tidak menyukai sikap copy paste dari para pengikutnya, menganuti suatu pendapat tanpa mengetahui alur dan sumbernya. Ketiga, kebenaran suatu pendapat diukur sejauh mana kesesuaiannya dengan Al Qur’an dan hadits-hadits shahih.

Hakikat beragama adalah mengikuti petunjuk Allah Swt dan Rasul-Nya dan semua telah tertuang dalam Al Qur’an dan kitab-kitab Sunnah. Tanpa menafikan keberadaan para imam mazhab, pandangan mereka bukanlah harga mati yang tidak bisa ditawar. Tidak ada satu dalil pun yang mewajibkan bersikukuh menganuti suatu paham, apalagi mensetarakannya dengan kemutlakan Al Qur’an dan hadits Nabi Saw. Untuk itu, seorang muslim harus cerdas, kritis dan memaksimalkan potensi pikir. Telusuri dan pahami terlebih dahulu darimana sumbernya diambil, lalu titi setiap alur bagaimana pemahaman itu dihasilkan. Jika tidak mampu melakukannya sendiri, maka bertanyalah kepada yang diyakini lebih mengerti.

Pun dalam konteks zaman now, bila mendapat atau membaca postingan di medsos, jangan langsung diterima tanpa reserve. Teliti, pahami dan telusuri dulu sumbernya atau dalam bahasa Al Qur’an bertabayyun. Bisa jadi itu sebuah kebohongan bahkan mungkin penyesatan, karena kini medsos telah bergeser sebagian fungsinya dari media informasi dan komunikasi menjadi alat provokasi. Dengan demikian, berarti anda telah meningkatkan kualitas dari posisi muqallid yang copas ke maqam muttabi’ yang kritis, tingkatan minimal yang harus dicapai seorang muslim.

Wallahu A’lam !

Tentang Penulis

img/logos/stiq-logo-shortcut.png

Wakil Ketua I Yayasan Al-Lathifiyyah Palembang. Dosen STIQ Al-Lathifiyyah Palembang. Dosen UIN Raden Fatah Palembang.


Artikel Terbaru

img/drone.jpg

Identitas Peci Hitam

17 May 2019

Pengumuman Terbaru

img/drone.jpg

Penerbit Lathifiyyah

10 Aug 2018
img/drone.jpg

STIQ Al-Lathifiyyah

09 Aug 2018

Profil

img/drone.jpg

STIQ Al-Lathifiyyah

09 Aug 2018
img/drone.jpg

Penerbit Lathifiyyah

10 Aug 2018