Kiai Punk dan Santri Sok Ustad

img/drone.jpg

Kiai Punk dan Santri Sok Ustad

Mereka tak memilih gamis bukan karena ke-bukan arab-an, tapi semata sebab merasa tak pas menggunakan “pakaian rasul” sementara tingkah lakunya masih begitu-begitu saja.

Di pelataran pesantren, seorang tamu berpapasan dengan lelaki tua sedang menyapu halaman.

“Permisi, Pak. Kiai ada? Bisa ketemu?” Tamu tersebut bertanya. Jas dan sepatunya serba klimis. Ia baru saja turun dari mobilnya yang seperti baru saja mandi. Badannya tegap. Mukanya agak mendongak.

“Oh ada, insya Allah bisa,” jawab pria bersendal jepit yang hanya mengenakan kaos oblong dimasukkan ke dalam lilitan kain sarung. “Silakan tunggu sebentar! Biar saya beri tahu beliau dulu,” lanjutnya sembari mempersilahkan tamu tersebut duduk di bale-bale di emperan ndalem (rumah kiai).

Tak lama sesudah lelaki tua itu menyelesaikan tugasnya dan masuk ndalem, seorang santriwati menghampiri sang tamu.

“Silakan masuk, Pak! Kiai sudah menunggu.”

“Oh iya. Terimakasih!” Jawabnya sambil, kini, berupaya mematutkan diri selayaknya murid di hadapan guru atau anak di depan ayah ibu. “Jangan terlihat tidak sopan di hadapan Kiai,” ia membatin.

Tamu itu pun memasuki pintu ndalem dengan tubuh sedikit membungkuk. Mukanya ia tundukkan ke arah tanah.

“Assalamu’alaikum,” katanya.

“Wa’alaikumussalam,” sang Kiai menjawab.

Tamu tersebut belum sempat mengangkat muka, saat dadanya didera rasa kaget. Suara itu sepertinya sudah familiar. Tapi siapa!?

Ia pun lantas memberanikan diri menegakkan pandangan. Dan, masya Allah, ternyata orang yang sedang berdiri di hadapannya dan ia kecup tangannya itu adalah lelaki yang tadi ia temui di pelataran; pria tua penyapu halaman. Astaghfirullah, muka tamu tersebut tampak tak karuan menahan malu.

Setelah pertemuan yang memerahkan wajahnya itu, si tamu tadi beberapa kali berjumpa dengan sang Kiai.

Di acara-acara kawinan, ia hanya mengenakan batik biasa, berpeci hitam. Di saat-saat yang lain, sang Kiai bahkan memilih untuk memakai atribut selayaknya orang awam. Hanya di saat-saat tertentu saja, sang Kiai mengenakan “jubah keulamaan”-nya. Orang yang tak pernah bertatap muka secara langsung pasti bakal terkejut saat tahu bahwa ia ternyata ulama tersohor.

Penasaran, tamu yang tadi pun menyambangi ulama yang lain. Kali ini seorang ustad muda dan ia bermaksud menanyakan ihwal cara hidup Kiai, yang menurutnya aneh.

“Oh, Kiai itu!?” sergah Ustad setelah mendengar cerita si tamu.

“Bapak jangan gampang kaget ya!? Jangan kagetan!”

Begini… Sang Ustad mulai menjelaskan:

Tak semua yang bersurban itu ulama. Atau sebaliknya, tak seluruhnya yang gundulan (tak memakai tutup kepala) itu orang awam. Tak selamanya yang tampak seperti ulama itu benar-benar ulama, begitupun kebalikannya.

Kalau pola pikir yang Bapak pakai selamanya seperti itu, Bapak bakal terkejut-kejut saat di salah satu daerah di belahan timur sana, Bapak ketemu dengan sosok Kiai, tapi setelan rambutnya mohawk. Orang mengenalnya dengan Kiai Punk, meski tak ada yang tak menghormatinya; tak ada yang memungkiri kapasitas keilmuannya.

Kenapa demikian!?

Sebab ulama-ulama ini, mungkin karena saking tawadhu-nya, masih merasa dirinya bukan siapa-siapa. Kalaupun semua orang menyapa mereka dengan sebutan Kiai, secara pribadi orang-orang ini malah menganggap diri mereka masih santri.

Memang, sih, ada anjuran agar seorang ulama mengenakan pakaian selayaknya “jabatan” mereka. Tapi, ya, mau gimana lagi. Wong perasaan “tak pantas disebut ulama” itu muncul dari lubuk hati mereka yang paling dalam kok!

Sekarang, coba bandingkan hal ini dengan beberapa fenomena yang terjadi belakangan; banyak orang mengenakan pakaian-pakaian ulama hanya agar tampak seperti orang alim. Ya, bertebaran santri-santri yang berlagak seperti Ustad; sok ustad.

Nah, kalau orang-orang yang sok-sokan ini selanjutnya terlanjur dianggap sebagai kiai atau ustad oleh orang awam, lantas bagaimana!? Masyarakat bertanya soal agama kepada mereka, dan lalu mereka berfatwa seenak udel-nya; tanpa ilmu.

Syeikh Muhammad Amin Al-Kurdi, dalam Tanwir al-Qulub, menulis:

ومن البدع توسيع الثياب والأكمام لكنه مكروه لا حرام إلا ما صارشعارا للعلماء فيندب لهم ليعرفوا ويحرم على غيرهم التشبه بهم في ذلك لئلا يغتر بهم فيستفتوا فيفتوا بغير علم كما أنه يحرم على من ليس بصالح التزيي بزي الصالحين ليغر غيره   ومثله لبس العمامة الخضراء لغير شريف وقد جعلت على أولاد فاطمة الزهراء

“Termasuk bid’ah adalah melebarkan baju dan lengan. Hanya saja itu berhukum makruh, tidak haram, kecuali apabila hal itu telah menjadi tanda (syi’ar) bagi para ulama. Yang demikian ini disunnahkan bagi mereka (para ulama), agar orang awam bisa mengetahui (mengenal/mengidentifikasi) mereka. Dan HARAM, bagi selain ulama, menyerupakan diri (tasyabbuh) dengan para ulama di dalam hal berpakaian, agar kaum awam tidak tertipu dan kemudian meminta fatwa, yang lantas dijawab dengan tanpa ilmu. Seperti halnya juga HARAM mengenakan penampilan layaknya orang shalih, padahal ia sendiri tidak berpredikat seperti itu, untuk mengelabui orang lain (atau agar orang menduganya sebagai orang shalih). Ini seperti halnya haram mengenakan surban (imamah) berwarna hijau bagi selain syarif (keturunan Nabi atau habib), yang memang biasa dikenakan oleh keturunan Fatimah Az-Zahra.”

Itulah mengapa di beberapa tempat, umumnya di kampung-kampung, kaum bapak bertahan mengenakan peci hitam. Sebab, buat mereka, peci putih identik dengan haji, dan mereka sadar diri; merasa tak pantas memakainya.

Lalu ada juga beberapa orang yang enggan menggunakan qamish atau gamis, bukan karena tak mengakui bahwa itu merupakan jenis baju yang dipilih Nabi, dan karena itu bisa jadi sunnah. Mereka tak memilih itu bukan karena ke-bukan arab-an, tapi semata sebab merasa tak pas menggunakan “pakaian rasul” sementara tingkah lakunya masih begitu-begitu saja.

Ini bukan berarti kita lantas tak boleh bersurban, atau mengenakan pakaian lebar layaknya gamis, misalnya. Sebab semua itu tergantung niat dan atau motifasi kita.

Dulu, ada seorang Kiai yang mewajibkan santri-santrinya untuk tak lepas kopyah saat di luar area pesantren. Kenapa? “Agar kalau terbersit di dalam hati kalian saat di luaran sana, untuk melakukan tindakan-tindakan tak terpuji, kalian jadi malu dengan peci kalian. Pakai kopyah kok masuk bioskop, nongkrong di pinggir jalan sambil menyiuli perempuan,” kata Kiai itu.

“Nah, sampai di sini dulu, kira-kira sudah jelas?” tanya Ustad, membuyarkan perhatian.

Tamu itu mengerutkan kening. Tetapi kali ini mukanya terlihat berseri-seri,

“Oh begitu ya. Jelas, Pak Ustad.”

“Ok, kalau begitu. Sekarang kita ngopi dulu.”

Tentang Penulis

img/logos/stiq-logo-shortcut.png

Kepala Bagian Penelitian dan Pengembangan (LITBANG) STIQ Al-Lathifiyyah Palembang. Pemimpin Redaksi Bagian Penerbit Yayasan Masjid Agung Palembang. Redaktur Masjid Agung Palembang Televisi (MAPTV).


Artikel Terbaru

img/drone.jpg

Identitas Peci Hitam

17 May 2019

Pengumuman Terbaru

img/drone.jpg

Penerbit Lathifiyyah

10 Aug 2018
img/drone.jpg

STIQ Al-Lathifiyyah

09 Aug 2018

Profil

img/drone.jpg

STIQ Al-Lathifiyyah

09 Aug 2018
img/drone.jpg

Penerbit Lathifiyyah

10 Aug 2018