Online Syndrome dan Beragama “Semau Gue”

img/drone.jpg

Online Syndrome dan Beragama “Semau Gue”

Celakanya pelajaran agama yang didapat dari dunia maya maupun televisi ini terkadang langsung ditelan mentah-mentah yang penting sesuai dengan pemahaman diri sendiri

Kemajuan teknologi mengubah gaya hidup manusia; semua menjadi serba dekat, serba mudah dan serba cepat. Jika dulu untuk berkomunikasi, baik dengan teman atau saudara yang jauh tempat, kita harus menulis surat atau pergi ke wartel. Sekarang, alat komunikasi ada di setiap genggaman, dengan fitur yang semakin lengkap, tidak hanya untuk mengirim SMS atau menelfon, bahkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-haripun, dapat diwujudkan melalui aplikasi yang ada di handphone.

Dampak semakin pesatnya perkembangan teknologi informasi memang tak bisa dihindarkan. Setiap orang dapat menikmati kemudahan, baik dari sisi waktu maupun finansial. Untuk mendapatkan informasi yang diinginkan, kita tinggal menuliskan kata-kata kunci di google, youtube, atau situs-situs terkemuka lainnya. Selang beberapa detik, mesin pencari tersebut akan menampilkan beberapa alternatif informasi yang dibutuhkan.

Disadari atau tidak, seperti inilah pada akhirnya gaya belajar kita sekarang. Namun yang sangat disayangkan, gaya belajar tersebut terkadang tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan informasi biasa, tetapi juga kebutuhan akan pengetahuan agama. Belajar agamapun kemudian dianggap lebih cepat, praktis dan mudah, tanpa harus mencari guru atau pergi ke tempat-tempat belajar agama. Gejala seperti ini sebenarnya telah disinggung dalam firman Allah, Q.S al-Isra’ ayat 11: “Wa kaanal insaanu ‘ajuulaa” (“Dan memang manusia bersifat tergesa-gesa”).

Celakanya, pelajaran agama yang didapat dari dunia maya maupun televisi ini terkadang langsung ditelan mentah-mentah, yang penting sesuai dengan pemahaman diri sendiri. Konsep keagamaan “semau gue” otomatis menjadi fenomena yang tak bisa dihindari. Jangan pernah bertanya siapa gurunya? Karena guru tidak relevan di sini, apalagi bertanya tentang sanad keilmuan, sudah pasti jauh panggang dari pada api.

Padahal Ibnu Abbas dalam tafsir Ibnu Kasir telah memperingatkan betapa bahayanya belajar, khususnya belajar memahami al-Qur’an tanpa guru. Dari Ibnu Abbas, Rasulullah SAW bersabda: “Man qaala fil Qur’aani bira’yihi au bimaa laa ya’lamu, fal yatabawwa’ maq’adahu minan naar

Artinya, “Siapa yang mengartikan ayat al-Qur’an hanya dengan pendapatnya atau dengan dasar yang tidak ia ketahui, maka hendaknya ditempatkan dirinya dalam neraka” (H.R. at-Tirmizi, an-Nasa’i dan Ibnu Jarir). Ibnul Mubarak seperti yang pernah dikutip oleh Prof.Said Agil Husein al-Munawwar juga pernah berkata: “Al-Isnadu minad diin, walau lal Isnad, la qoola man syaa’a maa syaa’a” ( Sanad adalah bagian dari agama, jika tidak ada sanad, orang-orang akan berkata semaunya).

Maka tidak heran jika saat ini kita mudah menemukan pendapat atau tulisan yang terkesan sangat islami, tapi tidak jelas sumbernya, atau hanya berdasarkan hasil menonton “ustadz/ustazah” yang ada di dunia maya. Kalau sudah begini, siapa yang akan bertanggung jawab terhadap keshahihan ilmu yang dipelajari dan diamalkan? Semuanya serba tidak jelas.

Untuk itu, hendaknya setiap orang yang belajar agama mencari guru yang mampu membimbing secara lahir dan bathin. Hal ini disebabkan pembelajar seringkali belum stabil jiwanya, sehingga kerap terjadi kontradiksi antara bathin dan tingkah lakunya. Ali bin Abi Thalib pernah berkata, bahwa syarat keberhasilan seseorang dalam belajar adalah adanya petunjuk dari guru. Selain itu, menurut al-Ghazali, yang tak kalah penting adalah menjaga diri dengan sikap tawadhu’ baik terhadap ilmu maupun guru (Ibnu Rusn 1998, hlm. 77-80).

Apa yang dipelajari, dipikirkan, diucapkan maupun dilakukan sudah pasti harus dipertanggungjawabkan kepada Allah di hari kemudian. Tidak ada manusia yang sempurna hingga tidak membutuhkan bimbingan dari seorang guru. Dengan berguru, kita akan terhindar dari pemahaman keagamaan yang keliru ataupun menganggap diri sebagai orang yang paling berilmu. Wallahu ‘Alam bis Shawab.