Ratib Samman: Amalan Resmi Kesultanan Palembang Darussalam

img/drone.jpg

Ratib Samman: Amalan Resmi Kesultanan Palembang Darussalam

Zikir Ratib Samman ini menjadi amalan resmi di Kesultanan Palembang Darussalam. Selain sebagai ibadat, Ratib Samman juga menjadi adat.

Para Sultan Palembang terkenal sebagai sosok-sosok yang berilmu  (‘alim), bijaksana, dan agamis. Oleh karenanya, segala urusan terkait pemerintahan kesultanan, pun diatur menurut ketentuan syari’at.

Islam sendiri merupakan agama yang kaffah, baik zhahir maupun bathin. Aspek zhahir (lahiriah) dikaji melalui disiplin ilmu syari’at atau fiqih, sedangkan aspek batin melalui ilmu tasawuf atau tarekat. Dalam hal ini Nabi SAW bersabda:

الشريعة اقوالي والطريقة افعالي والحقيقة احوالي والمعرفة رأس مالي

Artinya:

“Syari’at itu adalah perkataanku. Tarekat itu adalah perbuatanku. Hakekat itu adalah budi pekertiku. Dan Ma’rifat itu adalah pokok/modal kekayaanku. ” (HR. Anas bin Malik).

Banyak dalil al-Qur’an maupun Hadis tentang Tarekat. Salah satu Tarekat Mu’tabarah yang cukup populer didunia Islam dan termasuk di Palembang adalah Tarekat Sammaniyah.

Tarekat Sammaniyah dinisbahkan kepada pengasasnya Syekh Muhammad Samman bin Abdul Karim al-Madani (1718-1776);  seorang ulama sufi sekaligus waliyullah di Madinah. Salah satu zikir terpenting dalam Tarekat Sammaniyah adalah “Ratib Samman”.

Banyak ulama Palembang yang berguru langsung dan mendapatkan ijazah Ratib Samman ini dari Syekh Muhammad Samman, di antaranya: Syekh Abdus Shomad al-Palembani (1737-1832), Syekh Kemas Ahmad bin Abdullah (1735-1800), Syekh Muhammad Muhyiddin bin Syihabuddin, dan lain-lain. Para ulama Palembang ini berdakwah menyiarkan Ratib Samman, baik di tengah masyarakat, maupun di kalangan istana. Bahkan Sultan Palembang pun mendapat ijazah mengamalkan Ratib Samman.

Sultan Muhammad Bahauddin, yang memerintah 1776-1803, disebutkan turut andil mewakafkan bantuan pendirian zawiyah (pondokan) Sammaniyah di Jeddah pada tahun 1777, dengan biaya sebesar 500 Riyal, dan yang beliau transfer melalui Syekh Muhammad Muhyiddin bin Syihabuddin, dua tahun setelah Syekh Muhammad Samman wafat.

Sedang di zaman Sri Sultan Suhunan Ratu Mahmud Badaruddin (memerintah pada 1803-1821), terjadi peristiwa perang suci Palembang melawan Belanda, pada tahun 1819, atau yang dikenal dengan sebutan perang Menteng. Sebuah pertempuran paling dahsyat pada waktu itu, yang dimenangkan oleh Kesultanan Palembang. Saat itulah, sebelum berangkat ke medan perang, Sri Sultan Mahmud Badaruddin menitahkan kepada seluruh rakyatnya untuk terlebih dahulu melaksanakan zikir Ratib Samman di Masjid Agung dan di keraton. Pasukan jihad yang dikomando oleh menantu Syekh Abdus Somad, bernama Kiagus Muhammad Zen, ini menyerbu pasukan Belanda dengan gagah berani tanpa mengenal rasa takut.

Peristiwa heroik tersebut direkam dalam sebuah manuskrip Palembang sebagai berikut:
“…adapun segala haji2 pada masa itu semuanya kumpul di luar Kuto duduk di pemarakan luar semuanya dg senjata lengkap. Haji2 itu semuanya pada berzikir dan beratib Samman terlalu ramainya… “

Demikianlah, zikir Ratib Samman ini menjadi amalan resmi di Kesultanan Palembang Darussalam. Selain sebagai ibadat, Ratib Samman juga menjadi adat.

Tentang Penulis

img/logos/stiq-logo-shortcut.png

Kepala Bagian Penelitian dan Pengembangan (LITBANG) STIQ Al-Lathifiyyah Palembang. Pemimpin Redaksi Bagian Penerbit Yayasan Masjid Agung Palembang. Redaktur Masjid Agung Palembang Televisi (MAPTV).


Artikel Terbaru

img/drone.jpg

Identitas Peci Hitam

17 May 2019

Pengumuman Terbaru

img/drone.jpg

Penerbit Lathifiyyah

10 Aug 2018
img/drone.jpg

STIQ Al-Lathifiyyah

09 Aug 2018

Profil

img/drone.jpg

STIQ Al-Lathifiyyah

09 Aug 2018
img/drone.jpg

Penerbit Lathifiyyah

10 Aug 2018