Maulid Nabi: Membangkitkan Spirit Perjuangan

img/drone.jpg

Maulid Nabi: Membangkitkan Spirit Perjuangan

Meskipun perang salib versi Al-Ayyubi sudah berakhir, namun perang pemikiran (ghazw al-fikr) tetap dan akan terus berlangsung, bahkan mungkin hingga akhir zaman.

Secara historis, peringatan maulid Nabi Saw telah dilaksanakan umat Islam sejak delapan setengah abad yang lalu, tepatnya sejak 859 tahun lampau. Awalnya, perayaan ini dimaksudkan untuk menggelorakan semangat jihad, persaudaraan, dan persatuan melalui peningkatan nilai kecintaan kepada Nabi Muhammad Saw. Meskipun mungkin kini paradigmanya telah banyak mengalami pergeseran, hingga kini peringatan maulid Nabi telah menjadi rutinitas tahunan.

Dalam konteks keindonesiaan, kegiatan tersebut dilaksanakan, baik di masjid-masjid, majelis-majelis pengkajian, kantor-kantor pemerintah ataupun swasta, maupun di lembaga-lembaga pendidikan. Sangat disayangkan kiranya, jika perayaan maulid Nabi ini terselenggara tanpa nilai dan berlalu sebatas seremonial.

Umat Islam mengalami kekalahan pada perang salib (the crusade) di tahun 1099 M. Hal ini antara lain ditandai dengan direbutnya kota Yerussalem oleh para salibis Eropa (Prancis, Jerman dan Inggris), dan Masjid al-Aqsha pun disulap menjadi gereja. Kenyataan ini membuat umat Islam sangat terpukul. Shalahuddin al-Ayyubi (Saladin) –sultan Dinasti Bani Ayyub kala itu- melihat bahwa harus ada cara jitu untuk membangkitkan kembali semangat juang dan ukhuwwah kaum muslimin di seluruh penjuru dunia. Umat Islam tak boleh berlama-lama tenggelam dalam keterpurukan. Karenanya, mesti dibangun gerakan pembangkitan yang bersifat masif.

Menurut Al-Ayyubi, di antara cara membangkitkan kembali ruh perjuangan adalah dengan menumbuhkan dan mempertebal rasa kecintaan kepada Nabi. Salah satu medianya adalah peringatan kelahiran Nabi Saw pada setiap tanggal 12 Rabi’ al-Awwal. Oleh karena itu, sang Sultan –sebagai pelayan haramain- memerintahkan kepada seluruh jama’ah haji di tahun 579 H./1183 M untuk turut menyosialisasikan (di negara masing-masing) agar umat Islam di seluruh dunia melaksanakan peringatan maulid Nabi Saw. Momentum tersebut hendaknya diisi dengan berbagai kegiatan yang dapat membangkitkan semangat perjuangan umat.

Ide Al-Ayyubi sempat mendapat kecaman dari para ulama. Peringatan maulid dianggap bid’ah oleh sebab tidak pernah dilakukan oleh Nabi Saw dan para sahabat. Menjawab “tantangan” tersebut, Sultan Saladin berargumentasi bahwa peringatan maulid Nabi hanya syi’ar Islam, yang bukan bersifat ritual, sehingga ia justru terkategori bid’ah yang dianjurkan.

Cinta Rasul tidak bisa dipisahkan dari konteks keberimanan sorang muslim. Bahkan standar kualitas iman antara lain dapat diukur dengan sejauhmana cintanya kepada Rasul Saw. “Belum sempurna iman seseorang hingga ia mencintai Rasul melebihi cintanya pada kedua orang tua, anak dan semua orang.” Demikian antara lain pesan yang terdapat dalam sabda Nabi Saw.

Umar ibn al-Khaththab pernah berujar kepada Nabi, sembari memegang tangan beliau, “Wahai Rasul, sungguh aku mencintaimu melebihi cintaku kepada apapun.” Beliau menjawab, “Tidak [demikian] wahai Umar, demi Allah, hingga engkau mencintaiku melebihi cintamu pada dirimu sendiri”. Lalu ‘Umar kembali berujar, “Demi Allah, sekarang engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri”. Maka Nabi Saw. bersabda, “Engkau benar, wahai Umar.”

Cinta Rasul tentu bukan hanya sebatas kata, namun harus teraplikasi dalam tindakan nyata, termasuk pembelaan terhadap nilai-nilai kebenaran yang beliau usung. Dan gagasan Al-Ayyubi pun membuahkan hasil. Gelora jihad menghadapi perang salib dan semangat persatuan umat dapat dibangkitkan. Tahun 1187 M/583 H, Yerussalem berhasil direbut dan Al-Aqsha menjadi masjid lagi, meski hingga kini masih menjadi salah-satu biang konflik Yahudi Isra’el dan umat muslim Palestina.
Idealnya, maulid Nabi diharapkan mampu mengantarkan umat pada peningkatan nilai-nilai cinta Nabi Saw.

Konsekuensi kecintaan tersebut antara lain meneladani uswahnya secara kaffah dan pembelaan terhadap ajarannya dengan semangat juang yang tinggi. Tidak dengan angkat senjata, memang, karena yang dihadapi bukanlah musuh yang berfisik. Perjuangan umat era kini adalah menghadapi berbagai persoalan sosial yang menyebabkan umat semakin tersingkir dan berada lama dalam kemerosotan. Kemiskinan, kebodohan, dan kelemahan iman merupakan keprihatinan panjang yang terjadi hampir di seluruh dunia Islam. Berbagai tindak penyelewengan (KKN dan penyalahgunaan wewenang) yang dilakukan oleh oknum umat Islam ditambah lemahnya sistem penegakan hukum makin menambah terpuruknya tingkat kepercayaan masyarakat. Belum lagi penyimpangan ideologi sebagai sebab munculnya gerakan kelompok-kelompok ekstrim-radikal.
Kondisi macam ini berperan membentuk wajah Islam di mata dunia; seakan keras, intoleran dan tidak ramah yang pada akhirnya melahirkan Islam phobi. Pun kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang melingkupi hampir semua lini kehidupan, meskipun diakui membawa banyak kemaslahatan, ternyata tidak sedikit memberi pengaruh buruknya terhadap pertumbuhan dan anak bangsa.

Selain berbagai problem sosial di atas, ancaman serius yang juga kini sedang dihadapi umat Islam adalah apa yang disebut dengan proxy war, perang tak berbentuk namun sangat efektif melumpuhkan suatu bangsa, meski tanpa senjata.

Ancaman proxy war dalam konteks muslim tanah air saat ini antara lain peredaran narkoba. Seperti dilansir Panglima TNI beberapa waktu lalu, bahwa perang opium (ghazw al-afiun) adalah upaya asing untuk melemahkan generasi bangsa dengan tujuan menguasai pengelolaan sumber daya alam Indonesia. Makin gencar upaya aparat memberantas dan memutus jaringan peredaran narkoba di Indonesia, makin banyak pula ditemukan pertumbuhan sel-sel baru dan dalam skala yang tidak kecil. Parahnya, menurut Panglima, bisnis ilegal internasional ini ‘dicurigai’ melibatkan peran oknum penegak hukum. Jika demikian, maka ancaman bahaya narkoba bagi umat muslim dan rakyat Indonesia secara umum tidak main-main. Bukan hanya serius, tapi juga kritis dan darurat. Tanpa campur tangan Tuhan, rasanya mustahil dikalahkan.

Misi pokok eksistensi umat Islam dalam kehidupan adalah perjuangan, yakni berjuang demi tegaknya kebenaran dan runtuhnya berbagai bentuk kemungkaran serta meninggikan kalimat al-iman (Qs. Ali Imran : 110). Berdiam diri terhadap kemungkaran berarti restu atas semua akibat negatif yang akan ditimbulkan. Sebab, efek buruk suatu kemungkaran tidak hanya akan menyasar para pelakunya, tapi juga semua orang yang mengetahui dan berada dalam lingkupannya (Qs. al-Anfal : 25). Artinya, kemungkaran personal akan melahirkan kesengsaraan dan kedukaan kolektif.
Musuh-musuh tanpa wujud tentunya tidak dapat dihadang dengan kekuatan senjata atau alutsista termutakhir sekalipun. Satu-satunya upaya adalah kembali kepada seruan Al Qur’an dan tetap memegang erat teladan suci kenabian. Mengokohkan ulang semangat perjuangan tidak hanya dengan turun ke jalan, tapi lebih penting dari itu penguatan-penguatan semua lini kehidupan (Qs. al-Anfal : 60).

Dimulai dari penguatan fungsi keluarga sebagai benteng utama generasi muda, penanaman nilai-nilai agama sejak dini dan peningkatan peran lembaga pendidikan merupakan langkah efektif dalam menangkal dan melawan terpaan arus deras problematika keumatan.

Meskipun perang salib versi Al-Ayyubi sudah berakhir, namun perang pemikiran (ghazw al-fikr) tetap dan akan terus berlangsung, bahkan mungkin hingga akhir zaman. Hal ini antara lain telah diisyaratkan oleh Qs. al-Baqarah ayat 120.
Dengan demikian, perjuangan umat Islam belum dan tak pernah berhenti. Ruh jihad harus tetap dibangun dan ditumbuh-suburkan. Nilai-nilai ukhuwwah dan persatuan umat Islam wajib dipelihara dan semakin digelorakan, karena hal inilah yang menjadi salah-satu kunci kemenangan dan kekuatan umat sepanjang sejarah, sejak masa kenabian. Tak ada kemenangan tanpa kekuatan, tak mungkin kuat tanpa ukhuwwah dan persatuan. Keduanya akan terbangun dengan besarnya rasa cinta pada sayyid al-‘alam, Rasulullah Muhammad Saw.

Wallahu a’lam !

Tentang Penulis

img/logos/stiq-logo-shortcut.png

Wakil Ketua I Yayasan Al-Lathifiyyah Palembang. Dosen STIQ Al-Lathifiyyah Palembang. Dosen UIN Raden Fatah Palembang.


Artikel Terbaru

img/drone.jpg

Identitas Peci Hitam

17 May 2019

Pengumuman Terbaru

img/drone.jpg

Penerbit Lathifiyyah

10 Aug 2018
img/drone.jpg

STIQ Al-Lathifiyyah

09 Aug 2018

Profil

img/drone.jpg

STIQ Al-Lathifiyyah

09 Aug 2018
img/drone.jpg

Penerbit Lathifiyyah

10 Aug 2018