Panahan: Melawan Jaman (Bag. 3-Habis)

img/drone.jpg

Panahan: Melawan Jaman (Bag. 3-Habis)

Panahan tidaklah istimewa pada dirinya sendiri. Ia berhukum mubah saja. Ia menjadi istimewa, dalam hal ini berhukum sunnah, sejauh diniatkan untuk membantu sistem pertahanan negara.

Fiqh Al-Ramyu

Hukum berlatih memanah, menembak, dan atau keterampilan militer yang lain (sebagai makna umum dari al-ramyu) tidak pernah jauh dari hukum tentang jihad. Dalam hal ini, al-ramyu masuk dalam kategori persiapan perang. Al-Razi memberikan penafsiran atas Al-Anfal ayat 60:

وَهَذِهِ الْآيَةُ تَدُلُّ عَلَى أَنَّ الِاسْتِعْدَادَ لِلْجِهَادِ بِالنَّبْلِ وَالسِّلَاحِ وَتَعْلِيمِ الْفُرُوسِيَّةِ وَالرَّمْيِ فَرِيضَةٌ، إِلَّا أَنَّهُ مِنْ فُرُوضِ الْكِفَايَاتِ.

“Ayat ini menunjukkan bahwa persiapan perang dengan panahan, pedang, berlatih kuda, dan menembak berhukum wajib. Akan tetapi tingkat kewajibannya adalah fardhu kifayah.” (al-Razi, Mafatih al-Ghaib, Hlm. 249)

Kewajiban, atau lebih tepatnya ke-fardhu kifayah-an, untuk menyelenggarakan persiapan perang ini bergantung kepada kemampuan masing-masing orang. Dalam konteks kenegaraan, persiapan perang tersebut sudah dilakukan dengan pembentukan satuan militer dan atau ketentaraan. Dengan kata lain, adanya tentara di suatu daerah telah menggugurkan kewajiban tersebut. Meski sebetulnya kalangan sipil bisa saja menggenapi kewajiban ini dengan, umpamanya, menyokong pendanaan –barangkali dengan membayar pajak. Dalam Tafsir Munir, Wahbah Zuhaili menyebutkan:

ويكون المقصود هو إعداد جيش دائم مستعد للدفاع عن البلاد، ويتم ذلك بالمال المخصص لهذه المهمة، ودعمه بالسلاح الذي ينفق عليه من المسلمين بحسب الطاقة

“Tujuannya adalah membentuk ketentaraan secara berkelanjutan dalam rangka pertahanan negara. Hal itu dapat terwujud dengan baik apabila terdapat anggaran keuangan khusus, dan atau ditopang dengan persenjataan yang diperoleh dari bantuan kaum muslimin, sesuai dengan kemampuannya masing-masing.” (al-Zuhaili, al-Tafsir al-Munir, 1418 H, Hlm. 49)

Tetapi apakah hal ini berarti kalangan sipil tidak diperbolehkan berlatih perang –termasuk di dalamnya juga berlatih memanah!?

Boleh saja, dan bergantung pada tujuannya dalam berlatih. Sejauh dimaksudkan untuk membantu sistem pertahanan negara, panahan dan lain-lain berhukum sunnah, dan karenanyalah orang yang sebelumnya menguasai disiplin ini dan lantas enggan mengembangkannya (catat; untuk membantu persiapan jihad atau dengan kata lain untuk membantu sistem pertahanan negara) mendapat ancaman Nabi. Secara fiqh, ancaman tersebut berarti makruh saja. Tetapi bisa saja, pelatihan itu jadi haram. Mushtafa Al-Khin menjelaskan:

المناضلة سنة، كما قلنا في المسابقة، مادام الغرض منها الإعداد للجهاد، ومقارعة الأعداء، فإذا كان الغرض منها المفاخرة، أو العدوان على الأبرياء انقلبت إلي معصية

“Berlatih (panah) hukumnya sunnah, seperti juga telah dibahas dalam bab perlombaan, selagi bertujuan untuk persiapan perang dan atau mengusir musuh. Apabila tujuannya untuk kebanggaan, atau untuk menyakiti orang yang tidak bersalah, maka hukumnya berubah menjadi maksiat (haram).” (al-Khin, al-Fiqh al-Manhaji ‘ala Madzhab al-Imam al-Syafi’I, 1992, Hlm. 159)

Dalam Hasyiyah al-Jamal, Al-Azhari menulis:

وَ (قَوْلُهُ بِقَصْدِ الْجِهَادِ) إمَّا بِقَصْدٍ مُبَاحٍ فَمُبَاحَانِ أَوْ حَرَامٍ كَقَطْعِ طَرِيقٍ فَحَرَامَانِ أَوْ مَكْرُوهٍ فَمَكْرُوهَانِ، وَيُكْرَهُ كَرَاهَةً شَدِيدَةً لِمَنْ عَرَفَ الرَّمْيَ وَتَرْكُهُ لِخَبَرِ مُسْلِمٍ «مَنْ تَعَلَّمَ الرَّمْيَ ثُمَّ تَرَكَهُ فَلَيْسَ مِنَّا أَوْ فَقَدْ عَصَى» وَالْمُنَاضَلَةُ آكَدُ مِنْ شَقِيقَتِهَا لِلْآيَةِ وَلِخَبَرِ السُّنَنِ «ارْمُوا وَارْكَبُوا وَأَنْ تَرْمُوا خَيْرٌ لَكُمْ مِنْ أَنْ تَرْكَبُوا»

“Adapun (ucapan dengan tujuan jihad) maksudnya apabila –latihan tersebut– dengan niat mubah maka jadi mubah. Atau apabila tujuannya adalah sesuatu yang diharamkan, seperti untuk merampok, maka haram. Atau untuk tujuan makruh, maka jadi makruh. Dan dimakruhkan meninggalkannya, dengan kemakruhan yang sangat, bagi orang yang mengetahui al-ramyu, karena hadits Muslim, ‘barang siapa mengerti al-ramyu kemudian meninggalkannya maka ia bukan golongan kita atau telah bermaksiat’. Bagi mereka itu sangat dianjurkan  untuk berlatih karena dalil ayat dan hadits, ‘melempar dan menungganglah dan melempar lebih baik daripada menunggang’.” (al-Azhari, Hasyiyah Jamal ‘ala Syarh al-Minhaj, Tanpa Tahun, Hlm. 280)

Musthafa Al-Dib Bagha, dalam al-Tadzhib, juga menjelaskan:

وهما سنة إن كانا بقصد التأهب للجهاد، وإلا فهما مباحان، ما لم يقصد بهما محرماً – كقطع الطريق – فيحرمان، أو المفاخرة والتعالي.

“Keduanya (berlatih dan berlomba memanah) berhukum sunnah apabila dengan tujuan mempersiapkan jihad, dan apabila tidak maka berhukum mubah, selagi tidak diniatkan untuk tujuan yang diharamkan –seperti untuk merampok atau sombong-sombongan dan gagah-gagahan– maka diharamkan.” (Dib al-Bagha, al-Tadzhib fi Adillati Matni al-Ghayah wa al-Taqrib, Hlm. 249)

Terdapat perbedaan pendapat apakah pelatihan seperti ini diperbolehkan untuk kaum hawa. Beberapa ulama tidak memperbolehkan, karena kaum perempuan dianggap tidak tepat untuk pekerjaan seperti ini. Beberapa yang lain memperbolehkan, sebab bahkan Sayyidah Aisyah juga berlatih memanah. Al-Azhari menulis:

وَعِبَارَةُ شَرْحِ م ر لِلرِّجَالِ دُونَ النِّسَاءِ وَالْخُنْثَى لِعَدَمِ تَأَهُّلِهِمَا

“(Latihan ini disunnahkan) bagi laki-laki, bukan perempuan atau banci (orang berkelamin ganda), dikarenakan ketiadaan keahlian mereka.” (al-Azhari, Hasyiyah Jamal, Hlm. 280)

Sementara Al-Syarbini menjelaskan dalam Mugni al-Muhtaj:

أَمَّا النِّسَاءُ فَصَرَّحَ الصَّيْمَرِيُّ بِمَنْعِ ذَلِكَ لَهُنَّ وَأَقَرَّاهُ. قَالَ الزَّرْكَشِيُّ وَغَيْرُهُ وَمُرَادُهُ أَنَّهُ لَا يَجُوزُ بِعِوَضٍ لَا مُطْلَقًا، فَقَدْ رَوَى أَبُو دَاوُد بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ «أَنَّ عَائِشَةَ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا – سَابَقَتْ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -» .

“Adapun perempuan, maka al-Shaimari menjelaskan larangan (berlatih) bagi perempuan. Al-Zarkasy dan lainnya berkata, yang dimaksud tidak boleh bagi perempuan adalah apabila pelatihan tersebut menggunakan uang (sebagai perlombaan), tidak secara mutlak. Ini karena terdapat riwayat dari Abu Daud dengan sanad shahih, bahwa Aisyah juga berlatih (bersaing dalam perlombaan) dengan Nabi Saw.” (al-Syarbini, Mughni al-Muhtaj ila Ma’rifat Ma’ani Alfazh al-Minhaj, 1994, Hlm. 167)

Demikianlah, secara umum, berlatih memanah –juga seluruh pelatihan militer– berhukum mubah (tidak berpahala kalau dikerjakan, dan tidak berdosa apabila ditinggalkan). Ia menjadi sunnah apabila diniatkan untuk membantu sistem pertahanan, dan sebaliknya menjadi haram apabila ditujukan untuk merusak.

Yang perlu dicatat adalah bahwa maksud utama dari pertahanan negara adalah justru untuk menciptakan perdamaian itu sendiri, bukan dengan maksud untuk melegalkan nafsu berperang belaka. Fungsi utama dari sistem pertahanan dari suatu negara adalah terutama untuk membuat musuh terintimidasi dan karenanya musuh mengurungkan niatnya untuk menyerang. Tanpa adanya pelanggaran kedaulatan di antara pelbagai negara, maka terciptalah perdamaian di seluruh dunia.

ثم ذكرت الآية سبب الإعداد وهدفه وهو إرهاب عدو الله وعدو المسلمين من الكفار الذين ظهرت عداوتهم كمشركي مكة في الماضي، وإرهاب العدو الخفي الموالي لهؤلاء الأعداء، سواء أكان معلوما لنا أم غير معلوم، بل الله يعلمهم لأنه علام الغيوب. وهذا يشمل اليهود، والمنافقين في الماضي، ومن تظهر عداوته بعدئذ مثل فارس والروم، وسلالاتهم في دول العالم المعاصر. وبغير الإعداد الملائم للحرب في كل عصر لا يصان السّلام، وصون السّلام عرفا وعادة وعقلا لا يكون إلا بآلات الحرب الحديثة.

“Kemudian ayat tersebut menuturkan sebab dari persiapan perang, yaitu untuk mengintimidasi musuh Allah dan musuh kaum muslimin, yang terdiri dari kaum kafir yang menampakkan permusuhan seperti kaum musyrik Makkah pada masa lampau, atau musuh yang samar, yang membantu mereka. Sama saja apakah musuh-musuh itu kita ketahui, atau tidak kita ketahui, tetapi Allah maha tahu. Ini juga termasuk kaum yahudi, dan kaum munafik, di masa lampau, dan orang-orang yang menampakkan permusuhan setelah jaman itu, seperti kaum persia dan romawi dalam hal penjajahan mereka atas dunia kontemporer. Tanpa adanya sistem pertahanan (persiapan perang) di setiap masa, mustahil tercipta perdamaian. Terciptanya perdamaian, baik itu ditinjau secara kebiasaan maupun secara rasional, tidak akan mungkin tanpa peralatan perang.” (al-Zuhaili, al-Tafsir al-Munir, Hlm. 49)

Khatimah

Panahan tidaklah istimewa pada dirinya sendiri. Ia berhukum mubah saja. Ia menjadi istimewa, dalam hal ini berhukum sunnah, sejauh diniatkan untuk membantu sistem pertahanan negara. Panahan dianggap istimewa di jaman Nabi oleh karena kemampuannya menyakiti musuh dari jarak jauh (al-ramyu). Dalam konteks sistem pertahanan modern secara umum, panahan jelas ketinggalan jaman, meski bukan berarti tidak diperlukan lagi. Sistem persenjataan yang lebih canggih, laik senapan, meriam, atau belakangan juga nuklir, jelas tak bisa lagi dilawan dengan sekedar busur dan anak panah.

Wallahu a’lam bis shawab.

Bacaan

Al-Qur’an al-Karim.

Abu Zahrah, Muhammad. Tanpa Tahun. Zahrat al-Tafasir, Vol. 6. Tanpa Tempat: Dar al-Fikr al-‘Arabi.

Al-Azhari, Sulaiman ibn ‘Umar. Tanpa Tahun. Hasyiyah Jamal ‘ala Syarh al-Minhaj, Vol. 5. Tanpa Tempat: Dar al-Fikr.

Al-Bagha, Mushtafa Dib. 1989. al-Tadzhib fi Adillati Matni al-Ghayah wa al-Taqrib. Beirut: Dar Ibn Katsir.

Al-Khin, Musthafa. 1992. al-Fiqh al-Manhaji ‘ala Madzhab al-Imam al-Syafi’I, Vol. 8. Damaskus: Dar al-Qalam.

Al-Maraghi, Ahmad ibn Musthafa. 1946. Tafsir al-Maraghi, Vol. 10. Mesir: Mushtafa al-Babi.

Al-Sya’rawi, Muhammad Mutawalli. Tanpa Tahun. Tafsir al-Sya’rawi, Vol. 8. Tanpa Tempat: Muthabi’ Akhbar al-Yaum.

Al-Syarbini, Muhammad ibn Ahmad. 1994. Mughni al-Muhtaj ila Ma’rifat Ma’ani Alfazh al-Minhaj, Vol. 6. Tanpa Tempat: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

Al-Razi, Fakhr al-Din. 1420 H. Mafatih al-Ghaib, Vol. 15. Beirut: Bar Ihya’ al-Turats al-‘Arabi.

Al-Sa’ati, Ahmad ibn Muhammad Al-Bana. Tanpa Tahun. Al-Fath al-Rabbani li Tartiib Musnad al-Imam Ahmad ibn Hanbal al-Syaibani, Vol. 14. Tanpa Tempat: Dar Ihya al-Turatsi al-‘Arabi.

Al-Shan’ani, Muhammad ibn Ismail. Tanpa Tahun. Subul al-Salam, Vol. 2. Tanpa Tempat: Dar al-Hadits.

Al-Su’di, Abd al-Rahman ibn Nashir. 2000. Tafsir al-Su’di. Tanpa Tempat: Muassasah al-Risalah.

Al-Thabari, Muhammad ibn Jarir. 2000. Jami’ al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an, Vol. 11. Tanpa Tempat: Muassasah al-Risalah.

Al-Thabrani, Abu al-Qasim. 1985. al-Mu’jam al-Shaghir, Vol. 1. Beirut: al-Maktab al-Islami.

Al-‘Utsaimin, Muhammad ibn Shalih. 1426 H. Syarah Riyadh al-Shalihin, Vol. 5. Riyadh: Dar al-Wathan li al-Nashr.

Al-Zuhaili, Wahbah. 1418 H. al-Tafsir al-Munir, Vol. 10. Damaskus: Dar al-Fikr al-Mu’ashir.

Muslim, ibn Al-Hajjaj Al-Naisaburi. Tanpa Tahun. Shahih Muslim, Vol. 3. Beirut: Dar Ihya’ al-Turats al-‘Arabiy.

Ridha, Muhammad Rasyid. 1990. Tafsir al-Manar, Vol. 10. Tanpa Tempat: Haiah al-Mishriyyah al-‘Ammah.

Tentang Penulis

img/logos/stiq-logo-shortcut.png

Kepala Bagian Penelitian dan Pengembangan (LITBANG) STIQ Al-Lathifiyyah Palembang. Pemimpin Redaksi Bagian Penerbit Yayasan Masjid Agung Palembang. Redaktur Masjid Agung Palembang Televisi (MAPTV).


Artikel Terbaru

img/drone.jpg

Identitas Peci Hitam

17 May 2019

Pengumuman Terbaru

img/drone.jpg

Penerbit Lathifiyyah

10 Aug 2018
img/drone.jpg

STIQ Al-Lathifiyyah

09 Aug 2018

Profil

img/drone.jpg

STIQ Al-Lathifiyyah

09 Aug 2018
img/drone.jpg

Penerbit Lathifiyyah

10 Aug 2018