Mengetengahkan Kasih Sayang Universal

img/drone.jpg

Mengetengahkan Kasih Sayang Universal

Bumi dan fasilitas yang ada di dalamnya merupakan titipan Ilahi yang tidak boleh diekploitasi begitu saja. Bumi harus dilestarikan demi kepentingan generasi selanjutnya. (Ust Abdul Rahman Ramli)

Sebagai agama yang sempurna, seperti termaktub dalam Q.S. Al-Maidah ayat 3, yang artinya, “Pada hari ini telah Aku (Allah) sempurnakan agamamu untukmu,” tujuan kehadiran Islam adalah tujuan yang menyeluruh, bukan sekedar kewajiban religius yang bersifat ritual, bukan juga sebagai dogma mistik yang dapat menimbulkan formalitas dan kegersangan.

Islam datang dengan pedoman. Islam menghadirkan informasi dan petunjuk dari Tuhan, yang apabila dipelajari akan membantu penyelesaian berbagai problem kehidupan; yang apabila dihayati serta diamalkan akan membuat pikiran, rasa, dan karsa jadi mengarah pada keimanan. Yang belakangan ini diperlukan untuk menjamin stabilitas dan ketentraman di dalam hidup.

 

Kasih sayang universal yang dimaksudkan di sini adalah kasih sayang yang menyeluruh. Dalam istilah Islam dapat disebut dengan Rahmatan Lil ’Alamin, yang akan dibahas dalam uraian berikut, yakni kasih sayang kepada sesama manusia, berperilaku baik kepada hewan, mengasihi tumbuhan dan melestarikan lingkungan/alam.

TERHADAP SESAMA MANUSIA
Rasulullah SAW memberikan contoh bagaimana melakukan hablum minannas; menumbuhkan kasih sayang kepada sesama manusia. Antara lain, meringankan kesusahan sesama manusia dan mencarikan solusinya.

Dalam berbagai hadits, Rasulullah SAW bersabda, ”Barangsiapa yang membantu keperluan saudaranya, maka Allah membantu keperluannya, barangsiapa menghilangkan kesusahan saudaranya, maka Allah akan menghilangkan kesusahannya pada hari kiamat.” (H.R. Muttafaqun ’Alaih).

Dalam kesempatan yang lain beliau SAW bersabda, “Wahai sekalian manusia, sebarkan salam, berikan makanan, dan lakukan shalat saat orang lain tidur malam, niscaya kalian masuk surga dengan tenang.” (H.R. Tirmidzi)

Dalam sebuah hadits yang populer disebutkan, “Tidak beriman seseorang hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (H.R. Bukhari)

TERHADAP HEWAN
Dalam konteks kasih sayang yang Universal, maka Islam bukan hanya ajaran yang mengedepankan ritual personal semata, tetapi juga mengetengahkan ibadah sosial dan kasih sayang universal. Karena itulah, dalam Islam, ‘berbuat baik’ tak mesti hanya sebatas pada manusia. Berlaku baik kepada hewan pun bernilai ibadah.

 

Jauh sebelum Komunitas Eropa mengenalPeople  for the Etchical Treatment of Animals (PETA), organisasi yang membela hak asasi hewan, Rasulullah SAW telah mengajarkan kepada umatnya, 14 abad yang lalu, dalam sabda-sabda beliau, “apabila kamu melalui padang rumput yang subur lepaslah untamu untuk memakan makanannya di bumi.” (H.R. Muslim dari Abu Hurairah)

Dalam riwayat yang lain beliau bersabda, “apabila kamu mengendarai binatang, maka berikanlah haknya dan jangan kamu menjadi syetan-syetan terhadapnya”.


Dan dalam kesempatan yang berbeda, beliau SAW menyatakan, “seorang wanita dimasukkan Allah ke dalam Neraka dikarenakan ia mengurung seekor kucing, tidak diberinya makan dan tidak pula ia lepaskan untuk mencari makan sendiri” (H.R. Muslim dari Abdullah r.a.). Sebaliknya, pada saat yang lain, beliau bersabda , “seseorang  yang bergelimang di dalam dosa diampunkan oleh Allah SWT dosa-dosanya hanya karena ia memberi minum seekor anjing yang sedang kehausan.” (H.R. Muslim dari Abu Hurairah r.a.)

Anas berkata; “Rasulullah SAW telah melarang menjadikan binatang sebagai sasaran memanah.” (H.R. Muslim dari Hisyam bin Zaid bin Anas bin Malik).

TERHADAP TUMBUH-TUMBUHAN
Nabi suatu saat menancapkan pelepah kurma di atas dua kuburan untuk meringankan siksa kedua penghuninya. Perbuatan beliau tersebut pun menginspirasi umat Islam untuk menanami areal pekuburan dengan tetumbuhan.

Hal ini tentu saja berdampak positif bagi kesehatan lingkungan. Nabi menyuruh menanam pohon, “Barang siapa yang mempunyai sebidang tanah, maka hendaknya ditanami dengan tanaman-tanaman atau pepohonan.” (HR. Baihaqi).

Nabi Muhammad SAW juga menyuruh umatnya untuk tetap menanam bibit pohon walaupun Kiamat akan tiba. “Sekiranya kiamat datang, sedang di tanganmu ada anak pohon kurma, maka jika (masih) bisa tidak berlangsung kiamat itu sehingga selesai menanam tanaman, hendaklah dikerjakan (pekerjaan menanam itu).” (H. R. Ahmad, dari Anas bin Malik)  

TERHADAP LINGKUNGAN/ALAM
Sebelum dunia modern mencanangkan program-program yang berkaitan dengan “kelestarian lingkungan”, Rasulullah SAW telah mengajarkan dan menganjurkan umatnya untuk hidup bersahabat dengan alam. Al-Qur’an, dengan ayat-ayatnya, tidak mengajarkan upaya penundukan alam yang berlebihan; yang mengantarkan manusia kepada sikap sewenang-wenang.  

Bumi dan fasilitas yang ada di dalamnya merupakan titipan Ilahi yang tidak boleh diekploitasi begitu saja. Bumi harus dilestarikan demi kepentingan generasi selanjutnya. Hal tersebut dinyatakan dalam firman-Nya, “Dia (Allah) telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya.” (Q.S. Hud : 61)

Wallohu A’lam.

Tentang Penulis

img/logos/stiq-logo-shortcut.png

Kepala Bagian Penelitian dan Pengembangan (LITBANG) STIQ Al-Lathifiyyah Palembang. Pemimpin Redaksi Bagian Penerbit Yayasan Masjid Agung Palembang. Redaktur Masjid Agung Palembang Televisi (MAPTV).


Artikel Terbaru

img/drone.jpg

Identitas Peci Hitam

17 May 2019

Pengumuman Terbaru

img/drone.jpg

Penerbit Lathifiyyah

10 Aug 2018
img/drone.jpg

STIQ Al-Lathifiyyah

09 Aug 2018

Profil

img/drone.jpg

STIQ Al-Lathifiyyah

09 Aug 2018
img/drone.jpg

Penerbit Lathifiyyah

10 Aug 2018