Jangan Diam

img/drone.jpg

Jangan Diam

Namun tidak juga semua harus bersuara, sebab hal itu justru akan melahirkan kegaduhan, sampai juga kebingungan; suara siapa yang harus didengar?

“Jika diam itu emas, maka bicara adalah intan”. Pepatah ini semakna dengan pesan Nabi Saw, “Bicaralah yang baik, atau [kalau tidak] diam”. Maksudnya, diam adalah jalan terakhir ketika tidak mampu berbicara baik. Artinya, diam baru bernilai saat tidak mampu berbicara baik, objeknya ataupun caranya.

Memilih diam saat mampu bicara benar lebih buruk daripada sekedar bicara tidak benar. Selagi bicara dilakukan dengan benar dan baik, maka ia adalah sebutir intan, lebih berharga daripada emas.

Dalam wacana tradisi Islam, diam mengandung makna persetujuan. Ketika seorang wanita dilamar, ditanya kesediaannya, Nabi Saw berujar, “as-sukut ‘alamat ar-ridha”, diam itu tanda setuju. Andai dalam hatinya menolak, bila itu tidak diungkapkan -meski hanya lewat bahasa tubuh-, tetaplah dipandang sebagai suatu persetujuan.

Kondisi ini mungkin berbanding terbalik dengan paradigma wanita zaman sekarang, “as-sukut ‘alamat as-sukht”, diam [bisa] berarti marah atau “as-sukut ‘alamat al-irtibak”, diam pertanda bingung.

Diam menjadi sangat berbahaya ketika kita dihadapkan pada kebatilan. Merespon kemungkaran hanya dengan “membisu” tanpa kata sama artinya dengan memberikan restu terhadapnya. Meskipun dalam diam ia membenci kemungkaran, tuhan akan tetap menilainya sebagai “adh’af al-iman”, orang yang paling lemah imannya. Sebab, di antara indikasi kekokohan iman adalah berani bersuara dan bahkan bertindak setiap kali melihat kebatilan.

Dalam kitab-kitab riwayat, bahaya diam antara lain diilustrasikan dengan kisah tentang sejumlah orang yang sedang berlayar  menumpang kapal besar. Sebagian berada di lantai atas, sebagian lagi di lantai bawah.

Padahal di lantai bawah mesti bergerak ke lantai atas, saat mereka memerlukan air. Ini tentu mengusik kenyamanan penumpang di lantai tersebut.

Karenanya, di antara mereka kemudian muncul ide. “Agar lebih mudah, dan biar tidak mengganggu penumpang lain,  bagaimana jika dilobanhk saja dinding kapal di lantai bawah, tak perlu berjalan ke lantai atas lagi?”

Bisa dibayangkan, andai semua penumpang bersikap diam atas ide gila semacam itu, tentu keselamatan seluruh penumpang dipertaruhkan. Bukan hanya bagi penumpang, tapi juga seluruh awak.

Itulah sebabnya harus ada yang berani bicara menyampaikan kebenaran. Namun tidak juga semua harus bersuara, sebab hal itu justru akan melahirkan kegaduhan, sampai juga kebingungan; suara siapa yang harus didengar?

Meski dakwah adalah tugas berjama’ah, akan tetapi prosesnya tetaplah mempertimbangkan efektifitas dan profesionalisme. Mendiamkan kebathilan berarti merestui semua akibat buruk yang akan ditimbulkannya. Sebab, efek negatif sebuah kebathilan tidak hanya menyasar para pelakunya, tapi juga semua orang yang ada dalam jangkauannya.

Inilah yang dimaksud Al Qur’an “la tushibann al-lazina zhalamu minkum khashshah” (Qs. al-Anfal : 25), kesalahan individual itu akbibatnya akan meluas. Ath-Thabari (w. 310 H), menyitir penjelasan Ibn ‘Abbas tentang ayat ini, menjelaskan bahwa orang beriman diperintah untuk bersuara  terhadap setiap kebatilan. Jika tidak, Tuhan akan menjatuhkan murka-Nya kepada semua orang, tanpa membedakan mana pemain dan mana penonton. Artinya, keburukan  personal akan melahirkan kesengsaraan kolektif.

Kebatilan telah ada sejak pertama kali manusia diciptakan, timbul tenggelam sepanjang sejarah kemanusiaan. Dalam hal ini, semua nabi membawa misi yang sama, yakni meninggikan kebenaran dan menenggelamkan kebatilan. Jika dulu hanya dilakukan secara individual atau oleh kelompok kecil dan tertutup, maka saat ini  kebatilan terjadi secara massal dan terang-terangan. Inilah kemudian yang membuat maknanya menjadi samar. Sebab, suatu kebatilan yang dilakukan bersama-sama dan secara terbuka, pada saatnya akan dianggap sebagai suatu pembenaran dan selanjutnya akan tampak seperti kebenaran.

Sebut saja misalnya –dalam konteks keindonesiaan- kasus-kasus dosa berjama’ah yang dilakukan para penyelenggara negara, kini seakan menjadi lumrah, lantas dianggap patut dan biasa-biasa saja.

Bicara, pada zaman now dapat dilakukan dengan cara yang lebih kreatif. Tidak hanya bahasa lisan, tulisan juga menjadi sebuah pilihan yang efektif untuk bersuara. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi saat ini membuat dunia terasa semakin kecil. Dulu, akses  terhadap informasi mungkin menemukan banyak kendala. Tapi kini lebih mudah dari sekedar membalik telapak tangan, cukup hanya dengan sedikit menggeserkan jari. Tanpa microfon, suara pun lebih lantang terdengar dan dalam jangkauan yang sangat jauh, bahkan tanpa batas. Semua jenis medsos dapat dijadikan media untuk bersuara. Di antaranya bahkan menawarkan ruang khusus untuk menuangkan ide.

Di dunia medsos pula berseliweran berbagai postingan, dari yang pasif hingga narsis. Datang tanpa diundang, ada tanpa dicari. Dari yang sekedar informasi, seruan dan ajakan hingga berupa hasutan dan provokasi. Artinya, potensi curang dan penyimpangan kebenaran juga sangat besar terjadi di dunia maya.

Diam ketika menyaksikan keburukan adalah salah-satu bentuk kezhaliman. Paling tidak tiga bahaya yang ditimbulkan, pertama, dianggap setuju terhadap keburukan  dan; kedua,  mengaburkan nilai-nilai keburukan. Jika sudah demikian, maka  yang ketiga adalah siap menerima segala konsekuensi negatif yang akan terjadi.

Meskipun hanya beberapa orang yang melobangi kapal, namun tenggelamnya kapal akan memusnahkan seluruh penumpang, bukan!?

Wallahu a’lam !

Tentang Penulis

img/logos/stiq-logo-shortcut.png

Wakil Ketua I Yayasan Al-Lathifiyyah Palembang. Dosen STIQ Al-Lathifiyyah Palembang. Dosen UIN Raden Fatah Palembang.


Artikel Terbaru

img/drone.jpg

Identitas Peci Hitam

17 May 2019

Pengumuman Terbaru

img/drone.jpg

Penerbit Lathifiyyah

10 Aug 2018
img/drone.jpg

STIQ Al-Lathifiyyah

09 Aug 2018

Profil

img/drone.jpg

STIQ Al-Lathifiyyah

09 Aug 2018
img/drone.jpg

Penerbit Lathifiyyah

10 Aug 2018