Al-Quran dan Islamisasi Bahasa Arab

img/drone.jpg

Al-Quran dan Islamisasi Bahasa Arab

Al-Quran berhasil mengislamkan bahasa Arab. Dan bersamaan dengan proses pengislaman tersebut, berlangsunglah pula pengislaman terhadap pemikiran khalayak pembacanya.

Pada masa pra-Islam, atau yang lebih dikenal dengan zaman jahiliyah, bahasa Arab sudah mencapai puncaknya. Hal ini ditandai dengan keberhasilan bangsa Arab yang di bawah kepimpinanan suku Quraisy menaklukkan penduduk padang pasir, sehingga semenjak saat itu bahasa tersebut dijadikan sebagai bahasa utama dan memiliki posisi yang mulia di tengah kehidupan masyarakat. Bukti dari kemajuan bahasa arab dapat dilihat dari kemampuan masyarakatnya dalam menciptakan syair-syair yang indah baik, baik dari segi retorika maupun dari sisi makna. Syair atau puisi yang dimenangkan dalam suatu perlombaan, misalnya, akan dipamerkan di tengah khalayak dengan cara digantung di dinding Ka’bah. Syair-syair tersebut kelak dikenal dengan sebutan “Mu‘allaqāt”.

Wibawa para penyair ketika itu, tegas al-Attas, bahkan setara Filosof. Substansi atau kandungan puisi mereka dianggap sebagai sesuatu yang sejajar dengan ilmu teologi (ketuhanan) sampai mereka pun memiliki otoritas di bidang keagamaan. Syair-syair yang dibuat para penyair dianggap sebagai ilham, laiknya wahyu Tuhan, dan karena itulah mereka dikultuskan; dianggap dapat mengetahui perkara-perkara yang ghaib (lihat SMN al-Attas, Risalah untuk Kaum Muslimin, Kuala Lumpur: ISTAC, 2001, h. 112).

Islamisasi Bahasa
Di tengah situasi masyarakat yang mengkultuskan para penyair itulah al-Qur’an diturunkan. Al-Qur’an diturunkan menggunakan bahasa Arab yang sempurna (fuṣḥā), dengan keindahan retorika dan kedalaman makna, serta mengandung variasi kebahasaan yang tinggi (QS. Yūsuf, 12: 2; QS. al-Syu‘arā’, 26: 192-5).

Seiring datangnya Islam, bahasa arab menjadi entitas baru. Meskipun redaksi dan pola penuturannya sama, makna yang dikandung bahasa Arab pra-Islam berbeda dari al-Qur’an (bahasa arab yang diwahyukan). Bahasa arab al-Qur’an mampu menempati kedudukan yang amat luhur dalam pengucapan dan pemikiran manusia. Oleh karena al-Qur’an merupakan kitab suci terakhir yang diwahyukan bagi umat manusia, maka paham-paham yang terkandung dalam peristilahan dasarnya telah mencapai nilai kebenaran yang mapan, yang tidak lagi mengalami perubahan, bahkan ditengah perubahan zaman.

Telah jamak diketahui bahwa Nabi Saw, penerima wahyu Al-Quran, merupakan sosok ummi, artinya tidak dididik di sekolah-sekolah formal maupun informal (unschooled man). Nabi juga tidak dapat menulis (unlettered), dan tidak pula terlibat dalam komunitas puitis para penyair, yang memang sangat populer kala itu (lihat Asif Tufal, The Miraculous Nature of The Qur’an diterbitkan di London, tahun 1993, h. 15). Latar belakang Nabi SAW tersebut menimbulkan rasa takjub, bagaimana bisa manusia biasa laik Muhammad dapat mendatangkan jenis bahasa seperti itu? Ini membuktikan bahwa gaya bahasa al-Qur’an amatlah berbeda dengan style bahasa Arab pada umumnya. Dan inilah yang barangkali membuat Tufal berkesimpulan bahwa ketika ayat al-Qur’an dibacakan pada mereka, berdasarkan pengalaman-pengalaman “sastra” yang dimiliki bangsaArab jahiliyah saat itu, mereka sadar bahwa gaya bahasa al-Qur’an amatlah sempurna. Ia melebihi keindahan sastra bikinan manusia manapun. Gaya bahasa yang dibawa al-Qur’an tidak atau belum pernah ditemukan pada karya-karya mereka (as soon as the Arabs heard the Qur’an, they knew from their experience that it was far beyond the limits of humanly conceivable perfection. They instantly realised that such superhuman eloquence could not exist in a human work) (The Miraculous Nature of The Qur’an, h. 7).

Apabila bahasa al-Qur’an serupa dengan bahasa Arab pada umumnya, kenapa terjadi revolusi pada bangsa Arab? Hal ini secara sepintas dapat kita ketahui dari apa yang terjadi pada Saidina Umar ibn Khattab, tetkala beliau membaca surat Ṭāha [20]. Itulah asal muasal Saidina Umar menyatakan keIslaman (mengenai peristiwa ini dapat dilihat karya Abū Nu‘aim al-Aṣfahānī, Ḥilyat al-Auliyā’ wa Ṭabaqāt al-Aṣfiyā’, Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1988).

Diturunkannya al-Qur’an dalam bahasa Arab menginisiasi lahirnya revolusi fungsi pembelajaran bahasa. Pasca pewahyuan al-Qur’an, dorongan untuk mempelajari bahasa Arab semakin meningkat, justru sebab faktor Agama, dan bukan faktor-faktor lainnya seperti ekonomi maupun politik. Bahkan bisa dikatakan bahwa perkembangan bahasa Arab berbanding lurus dengan penyebaran agama Islam. Atas dasar inilah, Al-Attas meyakini bahwa bahasa Arab telah dibebaskan melalui proses apa yang dinamakan dengan islamisasi:

“Tegasnya, islamisasi merupakan dari pembebasan manusia yang diawali dari pembebasan tradisi-tradisi yang berunsurkan magic, mitologi, animisme kebangsaan-kebudayaan yang bertentangan dengan Islam. Setelah itu membebaskan manusia dari belenggu sekuler yang mempengaruhi akal dan bahasanya. Oleh karena itu, seorang Muslim adalah orang yang mana akal dan bahasanya tidak lagi dibelenggu oleh magic, mitologi, animisme, tradisional dan kebudayaan, serta sekularisme” (SMN al-Attas, Islam and Secularism, Kuala Lumpur: ISTAC, 1993, h. 44).

Bahkan, lanjutnya, beberapa ahli bahasa (leksikolog) orientalis Barat pun berkeyakinan sama, yaitu bahwa pada saat al-Qur’an diwahyukan di tanah Arab, ketika itu juga bahasa Arab (jahiliyah) akhirnya mengalami proses perubahan yang amat drastis, (al-Attas, The Concept of Education in Islam, Kuala Lumpur: ISTAC, 1999), 8-9).
Islamisasi bahasa telah dilakukan ketika pertama kali al-Qur’an diwahyukan. Sejalan dengan pengislaman bahasa, akal dan pikiran manusia pembacanya pun diislamkan.

Demikianlah, al-Qur’an menjadikan bahasa Arab, sebagai satu dari beberapa rumpun bahasa purba, mampu mempertahankan otentisitasnya sebagai satu-satunya bahasa yang masih hidup. Al-Qur’an-lah yang menjadikan bahasa Arab terpelihara dari perubahan-perubahan sehingga ia tetap hidup sampai hari ini. “Setiap makna dari ungkapan bahasa arab dapat dirujuk dalam perbendaharaan semantik al-Qur’an, dan bukan ditentukan oleh perubahan sosial dan hasil budaya” demikian kata al-Attas (Islam and Secularism, h. 46).

Peran al-Qur’an dalam Islamisasi Bahasa Arab
Untuk melihat seberapa jauh peranan al-Qur’an dalam mengislamkan bahasa Arab, dapat kita perhatikan beberapa uraian berikut ini:

Pertama, semenjak Al-Qur’an diturunkan, perbendaharaan kosa kata bahasa Arab menjadi semakin bertambah. Diksi munafiq, umpamanya. Pada masa pra-Islam, ungkapan tersebut tidak dikenal sama sekali. Setelah datangnya Islam, lema munafiq mendatangkan definisi dan menjadi sebuah kata kunci (keyword) tersendiri. Lafaz munafiq menunjuk pada orang yang mengaku Islam, akan tetapi hatinya mengingkari Allah SWT.

Kedua, tanpa disadari, al-Qur’an juga memperluas pengertian dari beberap ungkapan Arab. Terdapat banyak kata yang kemudian dirubah maknanya oleh Islam, seperti kata mu’min, muslim dan shalat. Zaman pra-Islam, kata mu’min diartikan sebagai aman, muslim diartikan sebagai tunduk atau patuh, dan shalat diartikan sebatas do‘a.

Setelah Islam datang, istilah tersebut tidak lagi menunjukkan pengertian yang sama. Mu’min didefinisikan sebagai orang yang percaya kepada Allah SWT dan semua perkara yang wajib dipercayai; muslim didefinisikan sebagai orang yang tunduk atau taat kepada perintah Allah SWT dan yang melaksanakan apa yang diperintahkan-Nya serta menjauhi apa yang dilarang-Nya; dan shalat bermakna bentuk peribadatan kepada Allah SWT, yang dimulai dari takbiratul ihram dan ditutup dengan salam.

Ketiga, Al-Qur’an menyatukan pelbagai dialek kabilah atau suku bangsa Arab. Hal yang demikian dapat kita amati dari susahnya penuturan dan redaksi bahasa yang digunakan oleh beberapa kabilah, seperti beberapa contoh berikut:

Kabilah Qudha‘ah mengubah huruf (ي) menjadi (ج). Sebagaimana ungkapan penyair berikut ini:
‎خالي عويف وأبو علج    المطعمان اللحم بالعشج
“Biarkanlah ‘Uwaif dan Abu Ali memberi makan daging di malam hari”.
Kata (علج) sebenarnya (علي), demikian juga (بالعشج ) maksudnya adalah (بالعشي).

Kaum Himyar mengubah alif lam al-ma‘rifah (ال) menjadi am (أم) di awal perkataannya:
‎أمن أمبر أمصيام فى أمسفر؟
Yang dimaksud dari serangkaian kalimat di atas adalah:
‎هل من البر الصيام فى السفر؟
“Apakah puasa ketika sedang safar (dalam perjalanan) itu merupakan suatu kebaikan?”

Dan yang terakhir adalah kabilah Hudai, mereka mengubah huruf ha (ح) menjadi ‘a (ع) sebagaimana ucapan mereka berikut:
‎أعل الله العلال
Padahal yang mereka maksud sebenarnya adalah أحل الله الحلال yaitu Allah telah menghalalkan yang halal.
Berdasarkan dialek yang mereka gunakan tadi, dapat kita perhatikan bahwa ucapan-ucapan tersebut jarang didengar dan bahkan pengucapannya sedikit menyusahkan lidah. Seiring dengan datangnya Islam, sedikit demi sedikit pola pengucapan macam itu hilang digantikan pola penyebutan yang baru dan lebih mudah diucapkan, sebagaimana yang terdapat di dalam al-Qur’an (lihat Mohd Radzi Othman (ed.) dkk, Warisan al-Qur’an: Sosiobudaya, Pulau Pinang: Universiti Sains Malaysia, 2009, h. 110-15)

Keempat, pemakaian nama Allah. Penggunaan nama Allah ini bukan merupakan sesuatu yang baru; bukan cuma digunakan pada masa Islam. Nama Allah sudah dikenal bahkan pada zaman Jahiliyah. Bangsa Arab pra-Islam telah menganggap Allah sebagai Tuhan yang Maha Tinggi di antara Tuhan-Tuhan pribumi. Allah mereka yakini sebagai pencipta alam semesta, pemberi hujan dan pelindung Ka‘bah. Namun ketika al-Qur’an diturunkan, terjadi revolusi yang amat dahsyat, karena Allah bukan hanya dimaknai sebagai pencipta alam semesta, pemberi hujan, dan pelindung Ka’bah, tetapi juga sebagai Pengatur kehidupan manusia.

Peralihan fungsi Allah inilah yang menuai perdebatan serius di kalangan masyarakat Arab Mekkah, yang tidak dapat dimungkiri, akhirnya membuat mereka marah. Pengaruh yang luar biasa itu setidaknya dapat kita amati dari penggunaan kalimat bismillah (in the name of Allah) oleh Nabi SAW. Tanpa disadari, meskipun kalimat tersebut amat singkat dan sederhana, namun di balik itu ia mengandung pandangan hidup (weltancahauung) dan makna yang amat dalam, sehingga menjadikannya bukan perkara yang biasa. Jika lafal Allah difahami dan maknanya sama saja seperti yang digunakan oleh orang Arab Jahiliyah ketika itu, mustahil kalimat tersebut dapat mempengaruhi musuh-musuh Rasulullah SAW, (uraiannya dapat lihat langsung karya Toshihiko Izutsu, God and Man in The Qur’an: Semantics of The Qur’anic Weltanchaung, Petaling Jaya-Malaysia: Islamic Book Trust, 2008, khususnya perbincangan di bab 4 mengenai Allah).

Perkataan Allah dengan demikian mengalami apa yang disebut dengan islamisasi. Pengislaman tersebut memberikan nuansa dan makna yang baru. Diksi Allah pun menjadi satu nama untuk zat yang suci dan perkataan tersebut tidak digunakan kecuali ia hanya dinisbatkan kepada Tuhan yang patut disembah (Ism ‘alam lidzdzāt al-muqaddasah lā yusyārikuhu fīhi ghairuh). Nama Allah mencakup semua sifat-sifat Ketuhanan, ia merupakan satu Wujud yang hakiki yang berbeda dengan wujud makhluk-makhluk-Nya yang lain, (lihat ‘Ali al-Shabuni, Ṣafwat al-Tafāsir, Cairo: Dār al-Ṣābūnī, 1997, J. 1, 18-19).

Berdasarkan uraian di atas, dapat kita tarik kesimpulan bahwa bahasa adalah unsur penting dalam penyebaran agama Islam. Diturunkannya al-Qur’an berbahasa Arab dikarenakan bahasa tersebut masih murni dan belum dipengaruhi oleh konsep-konsep, falsafah agama dan ajaran-ajaran tertentu dari kebudayaan lain. Bahasa Arab, yang tadinya sebatas bahasa sastra, kini mengalami perubahan yang amat drastis. Berkat Al-Qur’an, bahasa arab menjadi bahasa ilmu pengetahuan, aqliah, intelek, rasional dan saintifik.

Al-Quran berhasil mengislamkan bahasa Arab. Dan bersamaan dengan proses pengislaman tersebut, berlangsunglah pula pengislaman terhadap pemikiran khalayak pembacanya.

Tentu saja, tidak tertutup kemungkinan, bahasa Islam menyerap unsur-unsur, paham-paham, maupun istilah-istilah asing. Toh meskipun demikian, peristilahan asing tidak akan mempengaruhi dan atau mengelirukan pemikiran, selama umat Islam menghayati keislamannya. Malahan, paham-paham asing tersebut diselaraskan dengan spirit ajaran Islam tanpa merubah makna peristilahannya yang mendasar.

Tentang Penulis

img/logos/stiq-logo-shortcut.png

Kepala Bagian Penelitian dan Pengembangan (LITBANG) STIQ Al-Lathifiyyah Palembang. Pemimpin Redaksi Bagian Penerbit Yayasan Masjid Agung Palembang. Redaktur Masjid Agung Palembang Televisi (MAPTV).


Artikel Terbaru

img/drone.jpg

Identitas Peci Hitam

17 May 2019

Pengumuman Terbaru

img/drone.jpg

Penerbit Lathifiyyah

10 Aug 2018
img/drone.jpg

STIQ Al-Lathifiyyah

09 Aug 2018

Profil

img/drone.jpg

STIQ Al-Lathifiyyah

09 Aug 2018
img/drone.jpg

Penerbit Lathifiyyah

10 Aug 2018