Meneladani Akhlak Nabi Menjadi Rahmatan Lil ‘Alamin

img/drone.jpg

Meneladani Akhlak Nabi Menjadi Rahmatan Lil ‘Alamin

Sebab tetangga kita –biarpun kafir ia– tetap saja berhak atas penghormatan dan kebaikan-kebaikan dari kita.

Jika al-Qur’an dibayangkan sebagai figur daging yang berjalan di muka bumi, kita barangkali bakal menemukannya pada sosok Nabi Muhammad Saw. Orang yang diabadikan dalam sebuah bait syair, “Muhamadun basyarun laa kal basyari, bal huwal yaquutu bainal hajari, Muhammad adalah manusia tetapi tak seperti insan, ia laksana permata di antara bebatuan.”

Syahdan, Sa’ad bin Hisyam bersua dengan Sayyidah ‘Aisyah. Ia (Sa’ad) berujar, “Ummul mukminin, berceritalah kepadaku ihwal budi pekerti Rasul!” ‘Aisyah menjawab, “Kaana khuluquhul Qur’an. Amaa taqra’u ‘wa innaka la’alaa khuluqin ‘azhiim’. Perangai Rasul adalah al-Qur’an. Apakah kau tak pernah membaca ayat, ‘Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung’?”

Begitulah, sebagai manusia pilihan, sebagai kekasih-Nya yang istimewa, Allah menganugerahkan keluhuran budi kepada baginda Muhammad Saw. Dalam al-Qur’an, dalam al-Qalam ayat 4 yang telah disitir oleh Sayyidah ‘Aisyah tadi, kita bahkan menemukan pujian sekaligus pengakuan dari Allah atas keagungan pekerti dari penghulu insan kamil itu.

Keagungan akhlak sang Nabi ini diamini tidak saja oleh kawan, tetapi juga oleh lawan-lawannya. Kita ingat, bahkan sebelum diutus menjadi seorang Rasul, Muhammad telah dikenal sebagai al-Amin (orang yang bisa dipercaya). Bahwa kemudian sebagian Quraisy Arab menolak dakwahnya, itu tidak menepis kenyataan bahwa mereka sebenarnya menerima kebenaran betapa putera dari Abdullah itu adalah orang yang baik; orang yang memiliki akhlak mulia. Keluarga dan sahabat-sahabatnya sendiri, seperti telah diurai oleh Sayyidah ‘Aisyah, menengarai perilaku Nabi Muhammad Saw sebagai perwujudan dari al-Qur’an; sebagai aktualisasi dari nilai-nilai al-Qur’an.

Menilik kualitasnya yang par excellent, pantas saja apabila kelak segala hal yang muncul dari Nabi Muhammad Saw ditetapkan sebagai uswah; sebagai teladan. Dalam al-Ahzab ayat 21, Allah Swt berfirman, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.

Dus, seperti dijelaskan Muhammad Hasan Abdullah dalam Rahmatullah lil ‘Alamin; Shallalloohu ‘Alaihi wa Sallam (Kairo: Maktabat al-Adab)keagungan budi pekerti atau keluhuran akhlak inilah –sesuatu yang menjadi model implementasi dari nilai-nilai al-Qur’an– bekal utama dari misi kerasulan Nabi Muhammad Saw, saat menerima titah Allah, “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” (QS. al-Anbiya’: 107). Akhlak yang mulia inilah pula yang mestinya dikedepankan oleh umat Nabi Muhammad yang konon diproyeksikan menjadi penerus misi rahmatan lil ‘alamin.

***

Pada prakteknya, para ulama memberi penjelasan yang berbeda-beda terkait maksud dari frasa rahmatan lil ‘alamin. Ibn ‘Athiyah merekam ragam perbantahan ini dalam al-Muharror al-Wajiz (Damaskus: Dar al-Khair). Beberapa penafsir, menurutnya, percaya bahwa ayat ini disebut dengan redaksi umum (‘aam) tetapi dengan maksud khusus (khoos); bahwa seluruh alam yang dikehendaki di sini adalah spesifik merujuk pada orang yang beriman belaka dan orang kafir tidak tercakup di dalamnya.

Sementara itu, bagi kelompok yang lain, masih mengikuti penjelasan ibn ‘Athiyah, diksi ‘alamin memang ditujukan untuk makna umum (bukan cuma lafaznya yang umum), meliputi muslim maupun non muslim. Rahmat dalam konteks kaum muslim sudah jelas bentuknya, tetapi rahmat bagi non muslim adalah bahwa Allah membebaskan mereka dari timpaan adzab laiknya pernah dialami oleh umat-umat kafir sebelumnya, seperti badai, banjir, dan lain sebagainya. Pendeknya, sejak Nabi Muhammad, orang-orang yang ingkar kepada Allah mulai disepikan dari deraan-deraan, baik itu langsung maupun tidak. Inilah makna keberadaan Nabi sebagai rahmat bagi kaum tak beriman.

Ikhtilaf dalam memahami esensi dari konsep rahmatan lil ‘alamin ini pada gilirannya, apalagi pada masa kita sekarang, berimbas pada maraknya diferensiasi sikap keberagamaan kita, terutama dalam hal respons terhadap golongan-golongan yang bertentangan keyakinan. Beberapa di antara kita tampak sangat reaktif dan beberapa yang lain terlihat ultra toleran. Perbedaan ini, misalnya, dapat kita tangkap dalam perdebatan dalam masa’il furu’iyah (soal-soal cabang)seperti mengenai boleh atau tidaknya mengucapkan selamat natal pada umat kristiani, berdoa bersama antar umat beragama, dan lain-lain, dan sebagainya. Kita sendiri juga tahu belaka, dalam Madzhab Syafi’i –madzhab fiqh yang banyak dianut kaum muslimin Indonesia–, mendoakan selamat bagi kematian orang kafir dihukumi haram.

***

Persoalannya adalah, bagaimana umpamanya, jika suatu kali tetangga kita yang non muslim –lebih-lebih yang kita tahu orangnya sangat baik– meninggal, dan lalu kita diminta untuk datang serta mendoakannya? Bersediakah kita?

Almaghfurlah KH. Abdul Wahid Zuhdi –salah seorang murid dari Sayyid ‘Alawi al-Maliki, dalam bukunya Fiqh Kemasyarakatan, menjawab, “Datang saja, tapi tak perlu mendoakan kebaikan bagi si mayit. Jika terpaksa diminta untuk berdoa, maka berdoalah sekenanya, asal tidak berhubungan dengan doa untuk orang kafir.” Nah, kenapa solusinya bisa begitu?

Ya, sebab tetangga kita –biarpun kafir ia– tetap saja berhak atas penghormatan dan kebaikan-kebaikan dari kita. Nabi Saw bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia memuliakan tetangganya.” Dalam hadits lain Nabi bercerita, “Jibril senantiasa mewasiatkan kepadaku untuk berbuat baik kepada tetangga sampai aku beranggapan bahwa tetangga akan mewarisi.” (Kedua hadits tersebut diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari)

Apabila doa selamat bagi orang kafir berstatus haram, sebetulnya Nabi juga melarang kita untuk tidak mendoakan keburukan buat mereka. Ketika sebagian sahabat mengusulkan kepada beliau, agar mendoakan keburukan bagi orang-orang Musyrik, Nabi saw menjawab: “Aku diutus bukanlah sebagai pembawa kutukan, tetapi aku diutus sebagai pembawa rahmat,” (HR. Muslim). Demikianlah akhlak luhur yang diajarkan oleh Nabi Agung Muhammad Saw kepada kita; umatnya.

Akan tetapi jangan pula dilupakan bahwa Nabi juga memiliki tugas sebagai pembawa kabar gembira (basyir) dan pemberi peringatan (nadziir), seperti disebut dalam al-Qur’an Surat Saba’ ayat 28. Sebagai penerus Nabi, umat Islam juga ditugaskan untuk mengajak kaum kafir agar bersedia menikmati rahmat agama Islam. Dengan kata lain, toleransi kepada umat agama lain adalah perlu, tetapi tidak boleh berlebihan. Mesti ada jarak yang dijaga secara konstan. Akan halnya interaksi dengan mereka, hal ini juga amat penting. Kenapa? Sebab bagaimana dakwah bisa tersampaikan apabila tidak ada komunikasi sama sekali?

Pendeknya, meneladani akhlak Nabi berbanding lurus dengan upaya aktualisasi nilai-nilai al-Qur’an. Seperti telah disebut, keseluruhan perangai Nabi adalah al-Qur’an. Akhlak yang mulialah bekal kita dalam bersikap dan berdakwah. Tanpa perilaku yang agung, yang kita ambil contohnya dari Rasul, dakwah bisa saja gagal dan terbentur pada resistensi (penolakan). Tanpa budi pekerti luhur, perintah jihad pun berubah menjadi perilaku jahat. Tanpa akhlak yang mulia, umat Muslim tidak bakal menyandang predikat sebagai rahmatan lil ‘alamin.

Wallahu a’lam bis shawab.

Disampaikan pada Seminar “Aktualisasi Nilai-Nilai Islam sebagai Rahmatan lil ‘Alamin” di Jurusan Tafsir Hadits, Fakultas Ushuluddin, IAIN Raden Fatah Palembang tahun 2013.

Tentang Penulis

img/logos/stiq-logo-shortcut.png

Imam besar Masjid Agung Palembang. Ketua Yayasan Al-Lathifiyyah Palembang. Ketua Yayasan Ahlul Quran Sumatera Selatan.


Artikel Terbaru

img/drone.jpg

Identitas Peci Hitam

17 May 2019

Pengumuman Terbaru

img/drone.jpg

Penerbit Lathifiyyah

10 Aug 2018
img/drone.jpg

STIQ Al-Lathifiyyah

09 Aug 2018

Profil

img/drone.jpg

STIQ Al-Lathifiyyah

09 Aug 2018
img/drone.jpg

Penerbit Lathifiyyah

10 Aug 2018