img/drone.jpg

PAK KAI

Di Yayasan Lathifiyyah sendiri, Pak Kai seperti senantiasa siap untuk “diperintah”.

In Memoriam:
Drs. Kailani Musthofa, M.Pdi
(18 November 1966 – 24 November 2017)

Malam itu wajahnya telah berubah asimetris; melencong (seperti tertarik ke arah kanan). Kawan-kawan yang lain, seperti juga ia sendiri, tak tahu menahu apa penyakit yang mendadak dideritanya tersebut. Ia sudah tampak kesulitan bicara.

Seseorang menyarankan agar ia mencoba terapi di salah satu klinik yang berada tak jauh dari Pesantren Lathifiyyah. Beberapa saat sebelumnya, Kiai Nawawi juga berobat di sana, dan “saraf wajah ketarik”-nya alhamdulillah sembuh. Beberapa yang lain menyarankan agar jangan menyetir mobil malam-malam, atau dalam kondisi berangin. Konon, itulah salah satu musabab dari sakit macam yang dideritanya sekarang.

Rapat tersebut tak diikutinya sampai tuntas. Ia tahu, dan kita semua tahu, sekali rapat kami bisa menyita waktu sampai tengah malam. Padahal sebelum-sebelumnya, ia memang berpesan agar rapat-rapat digelar sore saja, bukan malam. Tapi malam itu, saat ia sejak beberapa hari sebelumnya disatroni gejala aneh, ia seperti memaksa hadir. Ia masih menyetiri mobilnya sendiri, dan baru-baru ini saja kami sadar kalau rapat malam itu adalah upaya terakhirnya untuk “pamit”.

Saya masih sempat mengecup tangan yang rupanya jadi salaman terakhir kami. Beberapa hari setelah rapat malam itu saya mendengar kondisinya kian memburuk. Rupanya bukan Bells Palsy,sakit yang menyerang saraf wajah, tetapi kanker. Hampir setahunan ini, ia bergulat; berkeliling dari satu ke lain operasi, berkomunikasi dengan hanya melalui tulisan, serta terbujur mengurus di kediamannya.

Pak Kai (panggilan kami untuk Bapak Kailani Mustofa) adalah salah satu pendiri Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran (STIQ) Al-Lathifiyyah. Rapat malam yang baru saja saya sebut adalah bagian dari rapat-rapat akhir menjelang penerimaan mahasiswa angkatan pertama (2016).

Mengingat itu, saya jadi sedih; Pak Kai bahkan belum sempat bersua dengan mahasiswa dari kampus yang ikut ia dirikan, yang ia bahkan sempat ikut turun gunung mengangkuti spanduk untuk promosi ke luar kota.

Saya mengenal Pak Kai di Fakultas Ushuluddin, saat beliau menduduki jabatan dekan. Sebagai mahasiswa, saya tak terlalu banyak berinteraksi dengan beliau. Sampai saat Kiai Nawawi menyeru saya merancang buku tentang LPTQ (Lembaga Pengembangan Tilawah al-Quran) provinsi Sumatera Selatan. Waktu itu, Pak Kai adalah sekretaris LPTQ, dan Kiai Nawawi ketua harian. Kami pun berdiskusi.

Saya ingat beliau bahkan sempat menyumbangkan bahan-bahan berupa literatur yang sampai sekarang masih bertumpukan di deret arsip di rumah saya. Beliau juga mengoreksi outline yang sempat saya buat, yang kemudian saya haturkan lagi ke Kiai Nawawi.

Saya mengingat saat-saat itu, atau saya membayangkannya, sebagai saat saya bimbingan pada Pak Kai; mahasiswa dan dekan ushuluddin, tetapi juga sama-sama santri yang ngestokne dawuh-nya Kiai Nawawi. Proyek buku itu mandek, memang, sampai kemudian LPTQ melanjutkannya dengan membentuk tim yang lebih besar. Buku itu sendiri baru terbit dan di-launching pada medio 2016.

Antara tahun 2013-2014, saya bertemu lagi dengan Pak Kai. Itu adalah saat-saat kami dibikin sibuk oleh rencana pendirian STIQ dan Masjid Agung Palembang Televisi (MAPTV). Kalau kemudian ada yang menyangka bahwa sayalah yang menciptakan kedua logo lembaga itu, kepadanya saya akan berkata, “Bukan, itu adalah karya Pak Kailani.” Ya, logo STIQ dan MAPTV adalah jejak Pak Kai yang memang seorang seniman cum kaligrafer. Paling jauh, saya hanya membantu mendigitalkannya.

Di MAPTV, tegas-tegas Pak Kai tercantum sebagai pendiri, selain Kiai Nawawi dan Pak Ir. Sukemi. Di STIQ, Pak Kai adalah satu dari apa yang di lingkungan kami disebut sebagai Tim Sembilan (karena beranggotakan sembilan orang). Para pendiri STIQ tersebut, kelak secara guyonan juga dijuluki Walisongo. Karena saya baru masuk belakangan, atau sebut saja sebagai bagian ke-sepuluh, maka saya –juga secara guyonan– mengidentifikasi diri sebagai Siti Jenar. Hahaha.

Itu adalah waktu ketika kami hampir tiap pekan menggelar rapat, dan tentu saja berkelakar. Pak Kai, yang memang agak pendiam itu, merupakan satu dari beberapa produsen guyonan alapalembang. Kerap dikemukakan dengan muka datar, candaan Pak Kai seringkali mengejutkan.

Secara pribadi, Pak Kai saya kenal sebagai sosok yang tawadhu, bersahaja, dan tidak neko-neko.Betapa tidak, orang yang pernah menjadi Dekan, dan kemudian -kalau tidak salah- Ketua Senat di IAIN Raden Fatah Palembang, itu selalu tampak “tunduk” di hadapan Kiai Nawawi, yang barangkali dianggapnya sebagai guru. Di Yayasan Lathifiyyah sendiri, Pak Kai seperti senantiasa siap untuk “diperintah”. Dari mulai ditunjuk sebagai juru bicara mediasi atau berpidato mewakili yayasan, sampai yang remeh temeh laiknya mengurus tetek bengek akta, membikin logo, atau bahkan menentengi spanduk. Untuk itu, saya tak pernah sama sekali mendengarnya mengeluh, betapapun barangkali ia juga tak pernah (meminta) dibayar.

Kepada orang yang “level”-nya berada di bawah, Pak Kai juga tak pernah mendongak. Sebatas yang saya amati, Pak Kai seperti selalu menahan diri untuk sok tahu dan menggurui orang lain. Bayangkan, redaksi yang kerap beliau pakai saat mengobrol dengan saya, yang sebetulnya adalah mahasiswanya, adalah gaya curhat. Misalnya, waktu itu saya diajaknya berdiskusi ihwal tasawuf dan tarekat. Pak Kai mengobrol, dan bertanya seolah dirinya sendiri orang bodoh, sehingga saya pun merasa diri seolah narasumber yang kaya pengetahuan. Bayangkan, saya yang sombong dan bekas Dekan Ushuluddin yang jelas-jelas bukan tak mengerti soal yang sedang ia bincangkan. Untuk menambah kesan ke-tidaktahu-annya itu, Pak Kai bahkan sampai meminta saya membawakan untuknya sebuah majalah tasawuf terbitan Ibu Kota.

Pak Kai, tak kurang tak lebih, sepertinya berupaya untuk sadar posisi alias bersikap adil (berusaha meletakkan sesuatu pada tempatnya). Pernah suatu ketika beliau berbeda pandangan ihwal sesuatu dengan salah seorang pengurus Yayasan. Bukannya ngotot dan kemudian purik (ngambekatawa merajuk), Pak Kai tetap mengikuti apa yang menjadi keputusan. Kalaupun tak setuju, Pak Kai akan selalu menemukan cara yang baik untuk menyanggahnya.

Demikianlah, lelaki berkacamata itu menghembuskan napasnya yang terakhir tadi pagi. Saya menyesal belum sempat menjenguk dan bersua kembali dengan orang yang di ujung hidupnya bahkan masih memikirkan cara untuk berterimakasih itu.

Dan, di atas segalanya, saya bersaksi bahwa Pak Kai adalah orang baik.

Tentang Penulis

img/logos/stiq-logo-shortcut.png

Kepala Bagian Penelitian dan Pengembangan (LITBANG) STIQ Al-Lathifiyyah Palembang. Pemimpin Redaksi Bagian Penerbit Yayasan Masjid Agung Palembang. Redaktur Masjid Agung Palembang Televisi (MAPTV).


Artikel Terbaru

img/drone.jpg

Identitas Peci Hitam

17 May 2019

Pengumuman Terbaru

img/drone.jpg

Penerbit Lathifiyyah

10 Aug 2018
img/drone.jpg

STIQ Al-Lathifiyyah

09 Aug 2018

Profil

img/drone.jpg

STIQ Al-Lathifiyyah

09 Aug 2018
img/drone.jpg

Penerbit Lathifiyyah

10 Aug 2018