Menjijikkan, Sesama Pria “Begituan” di Dalam Masjid

img/drone.jpg

Menjijikkan, Sesama Pria “Begituan” di Dalam Masjid

Marbot itu berteriak pada dua orang yang sedang mesum di dalam masjid. Keduanya lelaki.

Petang itu masjid masih sepi. Seorang marbot, yang terbiasa menggemakan suara adzan di sana, bersiap mengumandangkan tanda masuk waktu shalat.

Maka dibukanya pintu pelan-pelan. Tetapi, sebuah pemandangan membuatnya menjerit:

“Manusia celaka,” teriaknya. “Musuh Tuhan!!” tambahnya. “Tak adakah tempat lain untuk melakukan perbuatan tak senonoh itu selain di rumah Allah ini!?”

Marbot itu berteriak pada dua orang yang sedang mesum di dalam masjid. Keduanya lelaki.

Atau dalam redaksi yang lebih eksplisit, seperti di sebut oleh sumber ini, si marbot melihat seorang tua sedang “menunggangi” punggung pria muda.

Dan yang diteriaki pun menjawab, sambil marah juga, serta nyaris diplomatis seperti sedang merapal dalil:

“Hei, Pak Tua!!! Carikan buatku tempat lain di bumi ini yang bukan milik Allah, aku bakal melakukannya di sana!!!”

Masya Allah…

Si marbot pun terdiam. Dan kedua orang itu tanpa tahu malu melanjutkan perbuatan tak senonohnya. Sementara, sembari menggerutu, sang marbot pun keluar dari masjid. Ia tak jadi adzan. Ia hanya masuk masjid lagi setelah dilihatnya kedua orang tersebut selesai dengan “kesibukan”-nya.

Adzan pun terlambat beberapa saat.

Peristiwa ini terjadi ratusan tahun yang lalu. Tepatnya di sekitar abad ketujuh tahun hijriah atawa abad ke-12 tahun miladiyah. Yang menceritakannya adalah seorang alim bernama Ahmad, bergelar Syihabuddin, dan memiliki nama nisbat At-Tifasy.

Dari at-Tifasy inilah kita tahu bahwa lelaku tak elok seperti apa yang sekarang kita sebut dengan LGBT itu bahkan sudah ada sejak masa-masa itu. Dilakukan oleh seorang (atau dua orang) yang bahkan mampu menyebut dan kemudian juga memperkuat pendapatnya dengan nama Tuhan.

Kalau kemudian hari-hari ini kita memergoki perilaku tak senonoh semacam ini demikian marak, maka sebetulnya pada jaman itu pun lelaku macam itu juga sudah ramai dipergunjingkan. Cuma, orang menutup-nutupinya. Ini pun diakui oleh al-Tifasy yang bahkan menyebut beberapa nama populer, belakangan dikenal sebagai orang alim, yang juga terlibat dalam segala ihwal tindakan cabul.

Setiap zaman pasti menyembunyikan kejahiliyahannya sendiri-sendiri. Ia tidak berasosiasi pada lokasi dan atau person tertentu belaka. Jika kejahiliyahan terjadi di Barat, yang acapkali kita tuding-tuding sebagai biang kebobrokan moral itu, maka hal yang sama juga bisa terjadi pada siapa dan di mana saja.

Anda yang membaca Al-Suyuthi, atau Al-Thabari, dalam risalah-risalah tarikhiyyah mereka, akan tahu bahwa bahkan pada zamannya, di sebuah era yang disebut-sebut sebagai masa-masa keemasan Khilafah Islam, ada seorang khalifah yang digelari “yang terpercaya” ternyata menyukai sesama jenis. Ya, ia homo, dan kelakuan mesumnya pada para kasim lelaki itu pun membuat ibunya murka.

Akan tetapi, orang zaman now punya cara tersendiri untuk “berdamai” dengan segala keburukan yang terjadi di zamannya. Kalau bukan menyalahkan orang lain, ya menyalahkan zaman itu sendiri.

Ada kabar soal muda-mudi digerebek karena melakukan perbuatan mesum, kita lalu mengelirukan Bupati Anu atau Gubernur Itu. Ada cerita soal seorang anak usia beberapa tahun dicabuli sekawanan pemuda tanggung, kita lantas mengutuk zaman. “Ini zaman akhir! Ini mau kiamat!!!” Dan seterusnya.

Suatu sore, Imam Suhrawardi menginjakkan kaki di masjid yang memang sepi, di daerah Quzwain. Ia terkejut tak alang kepalang melihat dua orang lelaki sedang “begituan”. Lagi-lagi, di dalam masjid. Sang Syeikh pun murka:

“Berhenti!” sergah Suhrawardi, “atau kalau tidak, dunia ini bakal kiamat.”

Dengan entengnya pria yang diseru menjawab:

“Justru kalau ini kucabut (Anda tahu maksudnya apa), dunia ini bakal kiamat.”

Imam Suhrawardi pun tak jadi masuk masjid, sampai kedua orang itu selesai dengan “kesibukan”-nya.

Demikian, cerita tersebut dikutip dari kitab yang screenshot-nya saya sertakan di bawah. Dan, oh ya, saya sengaja menggunakan judul seperti di atas biar terasa bombastis saja. Anda suka, dan kemudian mudah menge-share, segala sesuatu yang sensasional, bukan!?

Tentang Penulis

img/logos/stiq-logo-shortcut.png

Kepala Bagian Penelitian dan Pengembangan (LITBANG) STIQ Al-Lathifiyyah Palembang. Pemimpin Redaksi Bagian Penerbit Yayasan Masjid Agung Palembang. Redaktur Masjid Agung Palembang Televisi (MAPTV).


Artikel Terbaru

img/drone.jpg

Identitas Peci Hitam

17 May 2019

Pengumuman Terbaru

img/drone.jpg

Penerbit Lathifiyyah

10 Aug 2018
img/drone.jpg

STIQ Al-Lathifiyyah

09 Aug 2018

Profil

img/drone.jpg

STIQ Al-Lathifiyyah

09 Aug 2018
img/drone.jpg

Penerbit Lathifiyyah

10 Aug 2018