Terima Kasih, Setan!!!

img/drone.jpg

Terima Kasih, Setan!!!

Tanpa setan mungkin manusia tak punya cita-cita, lalu tak ada kreativitas dan peradaban.

Jika seekor harimau hanya melahirkan maksimal 3 anak per tahun, babi hutan mampu membiakkan 12 ekor. Mengapa? Sebab babi hutan membawa misi pemenuhan pangan bagi harimau.

Andai harimau juga melahirkan 12 ekor pertahun, ekosistem akan jadi tak seimbang. Babi hutan akan punah, lalu harimau pun mati kelaparan.

Inilah sebenarnya yang dimaksud dengan “tawazun an-nizham al-ikulujiy”, atawa keseimbangan ekosistem. Untuk menjadi lestari, alam di-setting sedemikian rupa manis dan terikat pada hukum keseimbangannya. Itulah juga yang kita kenal sebagai sunnatullah.

Semua yang tercipta di muka bumi –apapun itu- ditujukan untuk pemenuhan kebutuhan manusia (Qs. al-Baqarah : 29). Tidak ada benda atau makhluk apapun kecuali berfungsi dan memberikan manfaat pada kehidupan (Qs. Ali Imran : 191). Mulai dari partikel-partikel kecil tak kasat mata, hewan air dan biota laut dengan segala jenisnya, semua binatang darat dan berbagai tetumbuhan, benda-benda padat dan cair, sampai pada makhluk-makhluk dimensi lain, semisal malaikat, jin dan setan. Segala tercipta untuk berkhidmat pada  kepentingan manusia sembari bertasbih dengan cara masing-masing (Qs. al-Isra’ : 44).

Nah, saat setan divonis sebagai musuh nyata sekaligus penyesat bagi manusia, tersimpul dalam benak bahwa ia tidak mendatangkan manfaat apapun. Ia justru jadi penyebab bagi hadirnya segala mudarat. Kesimpulan macam ini juga pernah terlintas dalam pikiran Sulaiman ‘alaihis salam, nabi sekaligus raja yang pernah menundukkan jin dan setan, serta menjadikan mereka sebagai sekumpulan karyawan (al-Anbiya’ : 82). Beliau jenuh menyaksikan manusia yang berbuat dosa dan melakukan pelanggaran, lalu menganggap setanlah biang keroknya.

Karenanya, suatu ketika, Sulaiman bermunajat kepada Allah Swt agar dizinkan menangkap semua setan, lalu mengikat dan mengurung mereka di suatu tempat. Allah menjawab, melalui malaikat penurun wahyu, bahwa tak ada baiknya buat manusia memenjarakan para setan. Namun Sulaiman tetap ngotot, berdo’a memohon izin untuk melakukannya, meskipun hanya untuk beberapa hari.

Di akhir dialog wahyu ini, Allah Swt memberikan izin kepada Sulaiman untuk menangkap, mengikat, dan mengurung para setan. Ya, Nabi Sulaiman; orang yang digelimangi kekuasaan dan kekayaan, yang ternyata tidak pernah mengambil nafkah dari posisinya tersebut. Beliau lebih memilih hasil usaha, jerih payah dan tetesan keringatnya sendiri untuk menjadi sumber nafkah keluarga. Di samping bertugas sebagai raja, Nabi Sulaiman punya usaha home industry berupa kerajinan tas yang produknya dijual di pasar-pasar rakyat.

Singkat cerita, Sulaiman telah menangkap, mengikat dan mengurung semua setan di sebuah tempat khusus. Dan seperti biasa, pekerja pergi ke pasar untuk menjual tas hasil karya sang Nabi. Namun, hari itu terasa aneh, mereka mendapati semua pasar tutup dan tak ada satu pun kiosyang buka. Kejadian ini mereka sampaikan pada sang bos, King Sulaiman. Beliaupun merasa ada yang tidak beres.

Keesokan harinya para pekerja kembali lagi ke pasar, namun kembali mereka menemui keadaan yang sama, bahkan lebih parah dari sebelumnya. Pasar tutup dan semua orang pergi menuju rumah ibadah. Sebagian pergi ke kuburan mengingat kematian, menangis dan meratap serta berdo’a kepada Allah; meminta keselamatan. Semua sibuk dengan ibadah masing-masing mempersiapkan bekal akhirat tanpa mempedulikan lagi urusan-urusan dunia dan segala keindahannya.

Sulaiman yang merasa sangat keheranan dengan keadaan tersebut pun mengadu dan berdoa kepada Allah Swt. : “Ya Allah, apa sebenarnya yang terjadi dan mengapa semua orang tidak ada yang bekerja mencari nafkah?”.

Lalu Allah Swt. mewahyukan kepadanya : “Wahai Sulaiman, bukankah engkau telah menangkap, mengikat dan memenjarakan setan. Itulah salah-satu efeknya, bahwa semua manusia tidak lagi bergairah bekerja mencari nafkah. Mereka hanya memikirkan semata-mata kehidupan akhirat dan telah melupakan nasib hidup mereka di dunia”.

Segera saja, setelah Sulaiman mendapatkan jawaban dari rasa penasarannya, ia melepaskan semua setan. Dan keesokan harinya, orang-orang kembali ke pasar, membuka kios dagangan masing-masing; bersemangat bekerja mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhannya.

Dari kisah di atas dapat disimpulkan bahwa eksistensi setan di bumi ternyata memberikan pengaruh signifikan terhadap keberlangsungan hidup manusia. Andai Allah Swt menghendaki semua manusia di muka bumi menjadi taat kepada-Nya tanpa ada yang menyeleweng, tentu hal tersebut sangat mudah bagi-Nya (Qs. Yunus : 99). Namun ternyata Allah Swt. menginginkan kehidupan di bumi penuh dengan dinamika dan harmoni. Karenanya, manusia membawa perbedaan sifat, sikap dan karakter, sehingga berlainan pula dalam kepatuhan dan keshalihan. Ada yang penurut dan taat, ada juga yang sedikit bandel dan usil. Pun ada pembangkang, adapula penentang.

Maka jadilah kehidupan dinamis dan penuh harmoni di bumi ini, sehingga terasa indah dan lalu manusia betah berlama-lama di dalamnya.

Sebagai penggoda, setan punya cara sistematis untuk membuat manusia tidak fokus pada hal-hal yang berbau keakhiratan. Setan membisiki manusia dengan berbagai angan-angan manis, indah dan menggoda (Qs. al-An’am : 112). Angan-angan ini kemudian membuat manusia bersemangat untuk meraihnya. Angan-angan ini pula yang membangkitkan gairah untuk mendapatkan kenikmatan-kenikmatan duniawi. Karenanya, sebagian manusia jadi terlena dan tenggelam dalam mengejar keindahan-keindahan tersebut, sampai melupakan eksistensi diri di hadapan Tuhan(Qs. al-Mujadilah : 19). Setan juga yang menjadi motor penggerak nafsu manusia dan membuatnya berfungsi secara maksimal. Tanpa setan mungkin manusia tak punya cita-cita, lalu tak ada kreativitas dan peradaban. Namun, manusia baik dan bijak akan mensikapinya secara seimbang.

Ketika masih di surga, Adam dan Hawa hanya menjadi ‘penikmat’. Awalnya keduanya hidup pasif dan monoton. Lalu setan datang menawarkan sebuah tantangan, yakni memakan buah terlarang yang kemudian menyebabkan keduanya terusir. Tak hanya berdua, ternyata setan juga disertakan. Sebab, tanpa setan,keduanya akan kembali hidup seperti di surga; pasif dan monoton. Setanlah yang kemudian membangun angan-angan dan membangkitkan semangat manusia untuk menjadikan dunia ini indah dan penuh kenikmatan. Lebih jauh, setan bahkan membuat manusia beranggapan bahwa dunia merupakan tempat abadi; di mana mereka akan hidup selamanya. Maka manusia pun merangkai peradaban dan membangun sejarahnya.

Oleh karena itu, dari sisi ini mungkin tidak salah jika dikatakan bahwa universalitas manusia ‘berhutang budi’ pada setan dan harus ‘berterima kasih’ kepadanya. Thank’s a lot setan, karenamu kehidupan di bumi berlangsung secara seimbang. Bukankah kebaikan itu ada karena adanya keburukan?. Wallahu a’lam !

Tentang Penulis

img/logos/stiq-logo-shortcut.png

Wakil Ketua I Yayasan Al-Lathifiyyah Palembang. Dosen STIQ Al-Lathifiyyah Palembang. Dosen UIN Raden Fatah Palembang.


Artikel Terbaru

img/drone.jpg

Identitas Peci Hitam

17 May 2019

Pengumuman Terbaru

img/drone.jpg

Penerbit Lathifiyyah

10 Aug 2018
img/drone.jpg

STIQ Al-Lathifiyyah

09 Aug 2018

Profil

img/drone.jpg

STIQ Al-Lathifiyyah

09 Aug 2018
img/drone.jpg

Penerbit Lathifiyyah

10 Aug 2018