Al-Itsar: Mendahulukan Kepentingan Orang Lain

img/drone.jpg

Al-Itsar: Mendahulukan Kepentingan Orang Lain

Mendahulukan kepentingan orang lain atas kepentingan pribadi ini sudah sangat jarang dan demikian langka dalam praktek kehidupan umat Islam saat ini.

Pada masa akhir kekhalifahan Abu Bakar ash-Shiddiq ra., terjadi peristiwa perang Yarmuk, yakni perperangan antara umat Islam melawan bangsa Romawi, yang tepatnya terjadi pada tahun 13 Hijriyah. Pada peperangan Yarmuk ini, balatentara Islam berjumlah sebanyak +65000 orang menghadapi +245000 orang balatentara Romawi dengan senjata dan peralatan perang yang lengkap. Perang Yarmuk merupakan salah-satu peperangan yang sangat besar dan penting dalam catatan sejarah Islam, karena ia merupakan peperangan pertama yang terjadi di luar bangsa Arab dan menjadi pintu gerbang pertama tersebarnya Islam ke luar wilayah jazirah Arabiyyah, termasuk ke negara-negara Eropa.

Hadhirin jama’ah jum’at rahimakum Allah !

Dalam kesempatan ini, tentu kita tidak akan membicakan tentang dahsyatnya peristiwa perang Yarmuk yang kemudian dimenangkan oleh umat Islam ini. Akan tetapi kita ingin melihat sekelumit kisah teladan yang diperankan oleh para syuhada’ mulia perang Yarmuk. Dalam kitab riwayat disebutkan bahwa terdapat banyak shahabat yang terluka parah di sekujur tubuh mereka akibat pertempuran yang maha dahsyat tersebut. Di antara mereka terdapat Ikrimah ibn Abi Jahl (putranya Abu Jahal, sepupu Rasulullah Saw.), Al-Harits ibn Hisyam dan Ayyasy ibn Abi Rabi’ah yang di tubuh mereka terdapat lebih dari 70 luka bekas tusukan dan sabetan pedang. Pada saat tiga sahabat yang mulia ini dibaringkan-bersama para syuhada’ yang sudah lebih dahulu wafat-dalam kondisi yang sangat lemah dan kritis karena terluka parah dan kehabisan banyak darah, datanglah seorang sahabat yang bermaksud memberikan minum kepada para korban perang ini.

Ketika kendi air itu diberikan kepada Ikrimah ibn Abi Jahl dan baru saja ia hendak meminumnya, ia melihat Al-Harits ibn Hisyam yang berada di sampingnya yang tampak begitukehausan dan sangat membutuhkan air.MakaI Ikrimahberkata : “berikan air ini untuk Al-Harits”. Lalu kendi air berpindah ke tangan Al-Harits ibn Hisyam. Ketika Al-Harits baru saja hendak mendekatkan kendi itu ke bibirnya untuk meminumnya, iapun melihat di sampingnya  adaAyyasy ibn Abi Rabi’ah yang menatapnya seperti juga sangat kehausan dan lebih membutuhkan air minum itu. Maka Al-Harits a berkata : “berikan air ini kepada Ayyasy”. Kemudian kendi air itupunberpindah ke tangan Ayyasy, namun belum sempat air itu diminumnya, Ayyasy ternyata telah wafat menjadi syahid. Lalu sahabat tersebut bergegas mengambil kendi air itu dan segera memberikannya kepada dua orang sebelumnya, Ikrimah dan Al-Harits, namun –sangat disayangkan- belum sempat air tersebut sampai kepada keduanya, Ikrimah dan Al-Harits-pun telah wafat syahid, sebelum air minum itu sampai kepadanya.Demikian kendi air minum tersebut berpindah dari satu tangan ke tangan yang lain, tanpa ada yang meminumnya, karena mereka sama-sama ingin mendahulukan hak saudaranya daripada mendahulukan kepentingan dirinya sendiri.

Hadhirin jama’ah jum’at rahimakum Allah !

Ilustrasi kisah di atas menggambarkan sekaligus mengajarkan sebuah substansi mulia ajaran Islam, berupa ajaran “al-itsar” dimana setiap pribadi muslim idealnya selalu memposisikan kepentingan orang lain di atas setiap kepentingan pribadinya. Ketiga shahabat yang mulia ini, -Ikrimah ibn Abi Jahl, Al-Harits ibn Hisyam dan Ayyasy ibn Abi Rabi’ah- mereka bertiga wafat syahid dalam keadaan “taqdim al-ghair”, lebih mendahulukan dan mengutamakan kebutuhan saudaranya di atas kebutuhan diri mereka sendiri, bahkan dalam keadaan sangat genting sekalipun dan meskipun sesungguhnya masing-masing mereka dalam keadaan sangat membutuhkannya. Ajaran mulia ini telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw. dan para sahabatnya sepanjang masa kenabian dan masa-masa awal Islam dan telah terekam dalam banyak kitab riwayat. Betapa sikap lebih mengutamakan orang lain daripada diri sendiri merupakan akhlak yang sangat mulia dan telah ditanamkan oleh Rasulullah Saw. kepada setiap orang yang beriman. Di mana Rasulullah Saw. meletakkan sikap cinta dan kasih sayang kepada saudara seiman, bagaikan cinta dan kasih sayang kepada diri sendiri dengan mempertaruhkan nilai-nilai keimanan “la yu’minu ahadukum hatta yuhibba li akhihi ma yuhibbu li nafsih” (kamu tidak dikategorikan beriman, jika kamu tidak atau belum mencintai saudaramu, sebagaimana halnya kamu mencintai dirimu sendiri). Keimanan dan keislaman yang berkualitas, tidak hanya menjadi penghias sempurna bagi masing-masing pribadi pemiliknya, namun juga akan terefleksi dalam tindak akhlak al-karimah yang mendatangkan banyak kebaikan, kemaslahatan, cinta dan kasih sayang kepada orang lain.

Fragmen kisah keteladanan para sahabat yang telah kita ungkapkan di atas -bagaimana nilai-nilai iman itu mampu mengikat dan membangun cinta dan kasih sayang antara saudaranya seiman- sehingga mereka sanggup mengorbankan diri mereka sendiri demi kecintaan mereka kepada saudaranya telah digambarkan oleh Allah Swt. di dalam Al Qur’an :

وَٱلَّذِينَ تَبَوَّءُو ٱلدَّارَ وَٱلۡإِيمَٰنَ مِن قَبۡلِهِمۡ يُحِبُّونَ مَنۡ هَاجَرَ إِلَيۡهِمۡ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمۡ حَاجَةٗ مِّمَّآ أُوتُواْ وَيُؤۡثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ وَلَوۡ كَانَ بِهِمۡ خَصَاصَةٞۚ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفۡسِهِۦ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ٩

Dan orang-orang anshar yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum kedatangan kaum muhajirin, mereka mencintai orang-orang yang berhijrah kepada mereka dan tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang telah diberikan kepada kaum muhajirin; dan mereka lebih mengutamakan saudara-saudara mereka kaum muhajirin itu di atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan.  Dan barangsiapa yang dirinya dipelihara oleh Allah Swt. dari sifat kikir, mereka itulah sesungguhnya orang orang yang beruntung (Qs. al-Hasyr: 9)

Hadhirin jama’ah jum’at rahimakum Allah !

Di dalam kitab“Jami’ li Ahkam al-Qur’an” karya Al-Imam al-Qurthuby diungkapkan bahwa sabab an-nuzul ayat ini –sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dari Abu Hurairah ra.-adalah berkenaan dengan seorang laki-laki yang menghadap Rasulullah Saw. dan berkata : “ya Rasulullah, saya lapar”. Lalu Rasulullah Saw. meminta kepada istri-istrinya untuk diberikan makanan, namun ternyata tidak ada makanan apapun yang dapat diberikan kepada orang tersebut, selain daripada air. Kemudian Rasulullah Saw. pergi kepada beberapa orang sahabat dan menawarkan kepada mereka “Siapa di antara kalian yang malam ini bersedia menjamu tamuku ini, semoga Allah Swt. akan melimpahkan rahmat-Nya kepadanya”. Lalu seorang laki-laki kaum anshar menjawab :”saya, wahai Rasulullah”. Kemudian ia pulang ke rumahnya dan berkata kepada istrinya “hidangkan semua makanan yang ada untuk memuliakan tamunya Rasulullah Saw.”. Istrinya menjawab : “Demi Allah, tidak ada makanan apapun kecuali hanya sedikit untuk anak-anak kita”. Lalu ia berkata : “nawwim ash-shabiyyah, wa athfi’i as-siraj wa qarribi li adh-dhaif ma‘indak” (tidurkanlah anak-anak, matikanlah lampu dan suguhkanlahmakanan itu kepada tamu kita). Ketika mereka hendak menikmati makan malam, maka istrinya menyuguhkan makanan itu lalu mematikan lampu dan menidurkan anak-anaknya, kemudian dia berdiri seakan-akan hendak memperbaiki lampunya, lalu dimatikannya kembali lampu tersebut. Suami-istri itu hanya menggerak-gerakkan mulutnya dalam keadaan gelap gulita (seperti mengunyah sesuatu) seolah-olah keduanya ikut menikmati hidangan makanan. Kemudian keduanya tidur dalam keadaan lapar karena tidak memiliki menu makan malam. Ketika pagi harinya, pasangan suami istri itu menemui Rasulullah Saw. dan menceritakan apa yang telah mereka lakukan terhadap tamu Rasulullah Saw. tersebut.  Maka beliau bersabda  : “malam ini Allah sangat terkagum-kagum atas apa yang kamu berdua perbuat”. Lalu turunlah ayat 9 Qs. al-Hasyr tersebut “wa yutsiruna ‘ala anfusihim wa lau kana bihim khashashah” (mereka lebih mendahulukan kepentingan saudaranya daripada dirinya sendiri, walaupun mereka sendiri dalam kesusahan).

 

Hadhirin jama’ah jum’at rahimakum Allah !

Dari kisah teladan di atas dapat dipahami bahwa di antara karakteristik orang-orang yang bertaqwa dan memiliki iman yang sempurna akan mampu menekan dan meminimalisir sifat-sifat egoistis untuk kemudian menjadikan kebutuhan orang lain itu jauh lebih penting daripada kebutuhan pribadinya sendiri. Hal ini juga telah diisyaratkan dalam Qs. Ali Imran : 133-134 sebagai berikut :

۞وَسَارِعُوٓاْ إِلَىٰ مَغۡفِرَةٖ مِّن رَّبِّكُمۡ وَجَنَّةٍ عَرۡضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلۡأَرۡضُ أُعِدَّتۡ لِلۡمُتَّقِينَ ١٣٣ ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلۡكَٰظِمِينَٱلۡغَيۡظَ وَٱلۡعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِينَ ١٣٤

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. Orang-orang yang bertaqwaitu adalah mereka yang berinfak, bershadaqah, bersedia membantu orang lain, baik dalam keadaan lapang maupun dalam keadaan sempit, orang-orang yang menahan amarahnya dan mampu menekan serta mengendalikan egoismenya, juga mereka dengan cinta dan kasih sayangnya mampu dengan mudah memaafkan kesalahan orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan (Qs. Ali ‘Imran :133-134).

Hadhirin jama’ah jum’at rahimakum Allah !

Jujur kita dapat sampaikan bahwa sikap dan sifat taqdim al-ghairal-itsar, mendahulukan kepentingan orang lain atas kepentingan pribadi ini sudah sangat jarang dan demikian langka dalam praktek kehidupan umat Islam saat ini. Nampaknya, kita mungkin lebih nyaman dan merasa lebih beruntung jika mampu mendahulukan setiap kepentingan dan kebutuhan diri sendiri dari pada kebutuhan dan kepentingan orang lain. Kita sepertinya merasa lebih senang dan bahagia jika kita mampu memperjuangkan hak-hak kita dan mengalahkan hak-hak orang lain. Kebanyakan kita seakan lebih puas jika mendapati orang lain terkalahkan hak-haknya karena kekuatan bahkan mungkin kelicikan kita, dalam upaya mendapatkan keberuntungan dan keberhasilan. Mengapa hal tersebut dapat terjadi demikan ? Karena sudah mulai menipisnya atau bahkan telah hilangnya nilai-nilai “ruhama’ bainahum”, cinta dan kasih sayang antar sesama yang dibangun atas dasar kemuliaan dan kekuatan iman.

Mari kita lihat fakta-fakta dalam praktek kehidupan kita sehari-hari di masyarakat. Ketika kita berada di jalan raya misalnya, kita akan saksikan karakteristik dan sifat asli manusia yang cenderung lebih mengutamakan hak pribadinya daripada mendahulukan hak-hak orang lain. Kita akan melihat bagaimana setiap pengendara seakan saling berebut untuk lebih cepat sampai kepada tujuannya masing-masing, sehingga ketika kendaraannya dirasa terhalang oleh posisi kendaraan orang lain, maka segala upaya untuk mendahului dan mengatasinya segera dia akan lakukan, meskipun terkadang harus melanggar hak-hak orang lain. Demikian pula di berbagai kendaraan umum dan fasilitas-fasilitas yang peruntukkan untuk masyarakat umum seperti bandara, terminal atau bahkan tempat-tempat rekreasi dan lain sebagainya, sangat jarang orang yang bersedia memberikan tempat duduknya kepada orang lain, bahkan terhadap orang yang lebih tua sekalipun.

Dalam skala kehidupan yang lebih besar, baik di dunia kerja, dunia politik maupun berbagai aspek mu’amalah sosial, kita dapat menyaksikan bagaimana sikap upaya mendahulukan kepentingan diri sendiri itu lebih diutamakan daripada kepentingan orang lain. Bahkan kita bisa melihat banyak sekali orang yang diberi amanah dan ditugaskan untuk mengurus kepentingan umat, masyarakat dan orang banyak, justru ia berupaya dengan segala cara meraup sebanyak mungkin keuntungan untuk dirinya, dan melupakan kepentingan-kepentingan umat yang menjadi tugasnya. Jangankan untuk mengorbankan kepentingan dirinya demi kepentingan orang lain, melaksanakan tugas sebagai pelayan umat dan pengabdi masyarakatpun terkadang diterabaikan, karena kepentingan-kepentingan yang bersifat pribadi dan golongan. Di sinilah nilai-nilai ajaran al-itsar dan taqdim al-ghair menjadi sangat penting dan harusnya menjadi salah-satu karakter yang menghiasi kehidupan umat Islam. Di mana dalam semua aspek kehidupan, seorang muslim diharapkan mampu menekan dan mengurangi bahkan menghilangkan sama sekali sifat-sifat yang lebih cenderung mementingkan diri sendiri, egois dan tanpa mempedulikan kepentingan dan hak-hak orang lain. Inilah sesungguhnya akhlaq Islam yang mulia, yang seharusnya menjadi pedoman, teladan dan anutan dalam kehidupan bermasyarakat, bahkan dalam berbangsa dan bernegara. Dan dengan menghidupkan kembali pesan-pesan ajaran al-itsar dan taqdim al-ghair ini dalam kehidupan, diharapkan akan terbangun kembali nilai-nilai persatuan dan persaudaraan yang dapat melahirkan dan membangkitkan kekuatan besar, sebagaimana yang terjadi pada generasi-generasi awal Islam.

Tentang Penulis

img/logos/stiq-logo-shortcut.png

Wakil Ketua I Yayasan Al-Lathifiyyah Palembang. Dosen STIQ Al-Lathifiyyah Palembang. Dosen UIN Raden Fatah Palembang.


Artikel Terbaru

img/drone.jpg

Identitas Peci Hitam

17 May 2019

Pengumuman Terbaru

img/drone.jpg

Penerbit Lathifiyyah

10 Aug 2018
img/drone.jpg

STIQ Al-Lathifiyyah

09 Aug 2018

Profil

img/drone.jpg

STIQ Al-Lathifiyyah

09 Aug 2018
img/drone.jpg

Penerbit Lathifiyyah

10 Aug 2018